Saturday, May 14, 2016

Just me and London

London, 14 Mei 2016

Aku duduk disini sambil menikmati dinginnya udara kota London yang bisa dibilang menusuk. Aku berdiam disini sambil merenung dan memikirkan apa yang telah kuperbuat saat lalu. Sebuah kesalahan yang benar-benar aku sesali tetapi aku tak bisa memperbaiki kembali. Hanya rasa sedih dan kecewa yang tertinggal dalam diriku.

Bodoh, egois, ceroboh.

3 kata itu yang dapat mendeskripsikan mengapa aku bisa menjadi seperti ini. Mengapa aku menjadi seseorang yang bodoh yang terus berangan-angan bahwa cinta akan selalu berakhir bahagia. Aku selalu berpikir bahwa hidupku selalu mulus dan tak ada yang salah dari itu. Mungkin karena kesombonganku tuhan mengujiku dengan ini. Skakmat. Aku terdiam dan tak bisa berkutik. Aku hanya bisa menangis dan menyesali. Tapi tak ada gunanya menangis. Untuk apa? Toh dia tak akan kembali.

Satu kali...
Dua kali...
Ketiga kali...
Aku tak sanggup.
Pengkhianatan yang cukup menyakitkan untukku. Sungguh menghancurkan aku dan masa depanku. Hampir untungnya karena aku disadarkan oleh orang terdekatku bahwa dia bukanlah segalanya. Aku masih tak terima dan hampir saja mengakhiri hidupku. Aku hampir saja mati tetapi dia datang memberi harapan. Sekarang? Semuanya omong kosong belaka. Kejujurannya hanya sampai di lidah tak sampai di hatinya.

Aku berpikir dan terus berpikir....
Hari demi hari.....
Minggu demi minggu....
Purnama demi purnama....
Musim demi musim.....
Kuputuskan untuk berjalan ke arah yang berbeda darinya. Kuputuskan melepaskan pegangan yang dia beri kepadaku. Semakin aku berpegang erat padanya semakin dia menancapkan panah ke jantungku. Sakit memang tapi aku tahan karena aku lihat senyumnya. Sekarang aku tak tahan dan aku benar-benar ingin lepas. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Hanya tersisa penyesalan yang mendalam.

Untukmu,
Aku ucapkan terima kasih karena telah berpura-pura menyukai dan mencintaiku layaknya seseorang yang tulus, layaknya seseorang yang bertanggung jawab, layaknya pangeran yang benar-benar melayani sang putri. Aku hargai itu tapi maaf......penderitaan yang kau beri padaku lebih menyakitkan sehingga mampu menghapus segala kenangan yang ada. Kuharap kau bahagia..
Aku yakin walaupun nanti aku tiada kau tak akan peduli padaku kan? Tak apa. Aku juga tak mengharapkannya.

Berbahagialah, carilah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Maafkan aku yang telah membuatmu tersiksa bagai di neraka. Terkahir dariku, apabila kita bertemu janganlah saling menyapa. Aku tau kau sebenarnya tak suka melihatku iya kan? Aku sudahi dulu. Terima kasih teman....

L.Y.

Wednesday, December 16, 2015

Oneshot - I Love You, Son

Genre: family, life
Rate: G
Cast: Kim Joonmyeon
        :  Kim Joonhee

Hai, namaku Kim Joonmyeon dan aku adalah seorang anggota senat dalam sebuah pemerintahan yang berada di negara yang terkenal akan ginsengnya. Aku adalah seorang yang sangat berdedikasi tinggi dalam pekerjaanku juga keluarga. Pertama....mari bicarakan masalah pekerjaan terlebih dahulu. Aku merupakan seorang anggota senat yang bisa dibilang masih baru dalam hal ini. Aku baru saja memasuki dunia yang bisa dibilang begitu berbeda dengan dunia yang biasanya aku lewati. Dulu, aku menjadi seorang pengacara pidana di sebuah law firm terkenal di Korea, namun aku merasa setelah melihat adanya ketidakadilan pada pemerintahan yang sekarang ini, aku merasa aku harus ikut campur untuk memberi keadilan pada rakyat Korea di luar sana. Aku tahu aku mungkin orang akan berkata "apa? Ketidakadilan? Hidup memang tidak adil, bung. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan" atau apalah tapi aku tetap pada pendirianku untuk menyejahterakan rakyat yang ada di luar sana. Baiklah......setelah selesai bicara masalah pekerjaan mari bicara masalah.....keluarga. Aku sebenarnya adalah orang tak begitu suka untuk diungkit masalah keluarganya...tetapi kali ini akan ku bahas. Aku mempunyai seorang anak bernama Kim Joonhee. Usianya sudah 10 tahun dan.....aku singleparent. Istriku bisa dibilang pergi meninggalkanku dengan anakku. Bukan berarti istriku berselingkuh dengan yang lain ya. Dia pergi meninggalkanku untuk menemui Tuhan. Aku tahu istriku sangat setia. Sampai pada saat-saat terakhir dia pergi saja, dia bisa-bisanya mengatakan ini "Oppa.....aku......kalau aku di surga nanti dan Tuhan ingin menikahkan aku kembali.....aku akan bilang pada Tuhan bahwa aku akan menunggumu disini supaya kita bisa menikah lagi dan mempunyai keluarga lagi. Di dunia setelah ini...aku ingin terus bersama oppa apapun yang terjadi. Ingatlah, aku selalu mencintai keluarga kecil kita ini..." ah.....aku jadi sedih mengingatnya. Istriku meninggal saat Joonhee berusia 5 tahun. Dia mengidap kanker darah yang aku saja tidak tahu kapan itu berawal. Kejadiannya begitu cepat dan....bam! Aku tiba-tiba ditinggalkan oleh istriku. Ah setelah aku menceritakan istriku, aku akan menceritakan Joonhee. Ya, Kim Joonhee. Dia anak semata wayangku. Bisa dibilang wajahnya mirip dengan ibunya dan sifatnya juga seperti ibunya. Tunggu, lalu aku dapat apa?! Hahahaha tenang...aku dapat bagian menentukan gender putraku. Ya walaupun hanya itu tak apa lah aku juga senang setidaknya aku ambil bagian dalam menghadirkan putraku ke dunia ini. Joonhee dulu adalah anak yang sangat patuh, sopan, manis, penurut, dan lain-lain. Sekarang pun juga masih begitu cuma bedanya dia lebih dewasa dan aku harus lebih sering memerhatikan dia mengingat usianya yang mendekati masa pubertas. Aku tak mau anakku nantinya akan terjerumus ke pergaulan yang salah. Aku ingin putraku menjadi seorang lelaki sukses dan mapan yang bisa membina sebuah keluarga dengan baik serta menjadi manusia yang berguna di dunia ini. Joonhee selalu ramah pada semua orang termasuk pada rekan kerjaku. Aku waktu itu tak sengaja mendengar beberapa orang membicarakan putraku. Bukan hal negatif sih tapi hal positif yang membuat aku merasa bangga menjadi seorang ayah. "Anak anggota senat Kim sangat ramah. Waktu itu dia ke kantor ayahnya, kukira dia akan diam saja pada orang kecil seperti kita nyatanya tidak. Dia malah memberiku makanan yang dia punya. Sungguh...aku sangat senang....ternyata masih ada anak muda yang dididik begitu baik oleh keluarganya padahal ibunya sudah tidak ada." Setiap minggu kuluangkan waktu agar bisa 'kencan' dengan Joonhee. Entah kita sama-sama ke sasana olahraga, ke perpustakaan bersama, mengajaknya pergi untuk sekedar mencari jajanan atau apalah yang penting aku bisa bersama dengan putraku dan terus mengajarinya untuk hidup sebagai orang yang baik di dunia ini. Aku tahu dia nantinya akan tergoda dengan sebuah tawaran yang akan menyesatkan dirinya tetapi aku tak takut karena aku juga menanamkan iman yang kuat pada putraku. Aku selalu mengajaknya ke gereja tiap minggu dan kami berdoa bersama. Kadang, sebulan sekali kami mengunjungi makam ibunya karena ya....walau bagaimanapun kami masih belum bisa menerima sosok pengganti dari wanita yang sangat kami sayangi. Ibunya Joonhee tentunya. Aku jadi teringat apa yang Joonhee katakan padaku "Appa, ingatlah......dimanapun kita berada eomma pasti selalu ada. Disini....di hati kita. Dan aku yakin, Tuhan pasti akan mempertemukan kita dalam satu kehidupan lagi. Aku ingin kita menjadi sebuah keluarga utuh dengan banyak kasih sayang yang kita berikan ke satu sama lain. Aku ingin kita menjadi keluarga yang paling bahagia." Aku pun tersenyum padanya "pasti. Appa akan terus berdoa pada Tuhan agar ucapanmu terkabul..." Joonhee tersenyum dan memelukku "I love you, daddy to the moon and never comeback" aku memeluk Joonhee juga dan berkata "I love you, son to the moon and never comeback too."
                            
                                 -end-

Sunday, July 13, 2014

Oneshot - Wait for you

Genre: romance, friendship

Rate: PG15

Cast: Kim Jongin
           Lee Seung woo
           Park Hyun ra
           Shin Heerin

Sinopsis: 3 bulan. Ya 3 bulan kami putus. Sebenarnya bukan putus, tapi menghentikan hubungan sejenak dikarenakan suatu alasan yang mungkin kalian pikir tak masuk akal. Berhenti berhubungan karena ego kalian masing-masing. Itulah yang aku alami dengan Jongin saat ini. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa jadi begini. Padahal dulu kita pasangan yang serasi. Mungkinkah ada kesempatan aku memperbaiki semuanya? Dan mungkinkah ia....menungguku?

Flashback

"Jongin~ah...mian aku rasa aku tak bisa denganmu lagi" Jongin yang kala itu sedang memainkan ipadnya sontak langsung mengehentikan kegiatannya itu dan mulai melihat Seung woo lekat-lekat "apa maksudmu kita tak bisa bersama? Aku mengecewakanmu? Atau aku kurang memahamimu yang merupakan seorang asisten chef?" "Bukan itu. Aku....aku rasa aku tak bisa memprioritaskan dirimu saat ini. Aku lebih memilih memasak dibanding dirimu. Aku juga merasa....perasaanku padamu agak pudar karena itu..aku ingin kita break sejenak. Semoga saja itu bisa mengubah perasaanku padamu" Jongin yang tadinya terdiam pun akhirnya tersenyum dengan senyum yang ia paksakan "arasseo kalau itu maumu. Aku akan mendukungmu apapun keputusanmu. Aku juga akan selalu menunggu kapan kau akan kembali padaku. Tenanglah, aku selalu ada untukmu" "gomawo Jongin~ah...aku tahu kau bisa mengerti keputusanku ini. Mian" Jongin hanya tersenyum sembari menutupi rasa sakit hatinya itu.

Kini, Seung woo hanya bisa merutuki dirinya karena kebodohan yang ia buat. Sudah hampir 3 bulan ia berpisah dengan Jongin dan baru saat inilah ia merasa menyesal akan apa yang ia lakukan itu "kenapa juga aku minta break? Padahal kan aku bisa saja jadi asisten Chef tanpa harus melepasnya iya kan? Ah bagaimana sih" Seung woo yang tengah berada di taman itu pun kemudian mengomel sendiri sambil memberi makan ikan di kolam. "Bagaimana caranya agar aku bisa kembali lagi ya? Ah tuhan...." Seung woo yang sedang berpikir masalah hubungannya itu tiba-tiba dikejutkan oleh seorang anak kecil yang memanggil dirinya "eonnie...ada hadiah untukmu" "hadiah? Dari kau?" "Aniyo. Dari oppa itu...dia bilang jangan suka bicara dengan hewan. Kasihan nanti hewannya bisa stres. Lebih baik kau ucapkan keluh kesahmu dengan boneka ini begitu" "mana oppa yang kau maksud huh?" Seung woo pun celingukan mencari namja yang anak tadi sebut oppa. Namun, ia tetap saja tak menemukannya "gomawo...ini aku ada permen untukmu saja ya" "ah iya eonnie" "wae?" Anak itu pun mencium pipi Seung woo dan memeluknya "kata oppa itu, aku disuruh memeluk dan mencium pipimu agar kau semangat lagi" "oppamu? Dia siapa sih?" "Rahasia. Aku tak bisa memberitahumu. Pokoknya kata oppa dia menyayangimu!" Seung woo masih membatu akan perlakuan anak tadi dan juga teddy bear yang tengah ia pegang. "Siapa sih yang memberi ini? Aneh-aneh saja" Seung woo tadinya ingin menaruh bonek itu di tempat duduk taman namun dia mengurungkan niatnya karena ia melihat sesuatu. Teddy bear itu mengenakan sebuah kalung. Ya, kalung itu persis seperti kalung yang Jongin beri pada Seung woo saat ultahnya yang ke-17. Namun, saat 3 bulan lalu Seung woo memberikan kalung itu pada Jongin dengan alasan ia tak mau kalung itu hilang disaat ia sedang menjadi asisten Chef padahal ia memberikan kalung itu karena merasa perasaannya yang belum pasti pada Jongin. Berkat kalung itu, Seung woo pun tak jadi meninggalkan teddy bear itu di taman dan malah membawanya pulang. Namja yang sedari tadi memerhatikan Seung woo itupun tersenyum dan segera meninggalkan taman.
                                 0o0
"Jadi kau menemukan kalung ini berada pada boneka teddy bear ini begitu maksudmu?" Tanya Heerin sambil membaca buku novelnya "mm....kurasa ini Jongin" "dia setia sekali menunggumu...kau tak pernah menghubunginya?" "Tidak. Terakhir bertemu ya saat meminta break itu" "ya! Neo jeongmal...kenapa kau hindari dia?" "Ya....karena aku merasa perasaanku pada dia sudah agak pudar makanya aku butuh waktu sendiri tanpa adanya dia disampingku" "jadi kau meragukan perasaanmu pada Jongin karena kau terlalu sering bersama dengan Chanyeol itu hah?" Pertanyaan itu cukup membuat Seung woo berpikir 'mungkinkah ini karena Chanyeol? Apakah alu yang terlalu kekanak-kanakan? Atau memang hubungan ini yang salah? Aku juga tak mengerti'  "Hello~ Lee Seung woo?" Heerin melambaikan tangannya didepan wajah Seung woo namun ia tak menoleh "KIM JONGIN!" Barulah Seung woo celingukan seperti orang kebingungan "mana? Mana?" "Kau melamunkan apa? Jongin? Ah pasti iya. Soalnya saat ku kagetkan dengan kata Kim Jongin kau langsung bereaksi" "ah...kebetulan saja itu. Kukira benar ada dia ah kau" "bilang saja kangen. Tak usah disembunyikan begitu" "apaansih kau...sudah ah aku mau pulang" "yasudah sana. Mau kuantar pulang? Kebetulan aku bawa mobil" "assa! Ada tumpangan! Aku ikut! Kalau gratisan aku suka!" "Ah sama saja kau dengan Hyun ra. Yasudah kkaja" mereka berdua pun segera menaikki mobil sport milik Heerin dan menuju ke kediaman Seung woo di Apgujeong.
                                   0o0
"Aku pulang" Seung woo memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Dia merasa sangat malas untuk berbincang dengan eommanya di dapur. Ia lebih memilih masuk ke kamar dan beristirahat. Setelah ia mandi dan membereskan kamarnya, ia menyalakan mp3 nya dan mulai memasang lagu-lagu clubbing. Dari Clarity sampai ke lagu-lagu dari Black Eyed Peas. Setelah memasang lagu tersebut, ia mengubahnya menjadi lagu All Of Me dan Right Here Waiting For You.

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

Saat Right Here Waiting For You diputar, ia kembali mengingat perkataan Jongin

"arasseo kalau itu maumu. Aku akan mendukungmu apapun keputusanmu. Aku juga akan selalu menunggu kapan kau akan kembali padaku. Tenanglah, aku selalu ada untukmu"

Seung woo lalu menoleh ke arah boneka teddy bearnya "kamu datang dari mana sih geommie? Kalung ini juga. Ah andaikan kau bisa bicara. Aku ingin kau mengatakan ini pada yang membelimu
who ever you are, why you have this neklace? And...why you send me this teddy and that neklace? Why? You know? Now I'm feeling not sure about my feeling to you. I don't know why but that's the fact. Because of that I want to break with you 3 months ago. For you who send this to me, I hope you pray hard for my feeling so i won't ask to end this relationship. Okay? Good" Seung woo lalu melempar teddy bear tadi dengan sembarangan. Tak lama, ponselnya pun berdering
                              
                         'Park Hyunra'

"Ah wae?" Jawab Seung woo sambil memainkan kukunya
"Neo eodiya?"
"Rumah...wae?"
"Aku mau bicara denganmu. Ke Cafe ya"
"Ah malas....disini saja"
"Andwae! Tak bisa disini. Kau yang kesini atau aku yang menjemputmu?"
"Arasseo....10 menit ya"

Seung woo lalu bersiap menuju Cafe dekat rumahnya. Setelah sampai, Hyun ra telah menunggu bersama Heerin. "Apalagi? Sepertinya aku sudah berbuat dosa lagi pada kalian" "geurae! Aku tahu kau memutuskan Jongin karena Chanyeol kan? Iya kan?!" Omel Hyun ra "museun soriya? Chanyeol temanku dan Jongin pacarku. Aku break dengannya karena masalah pribadi masing-masing" "kkeotjimal! Aku tahu kau ada rasa dengan Chanyeol! Asal kau tahu saja...Chanyeol itu sepupuku dan dia akan ditunangkan dengan cinta pertamanya jadi kau tak ada hak untuk masuk ke hidupnya" "Park Hyun ra~ssi! Aku tak memutuskan Jongin ataupun menaksir Chanyeol. Aku hanya merasa agak jenuh dengan hubungan ini jadi aku perlu waktu untuk membuat hubungan ini terus berlanjut! Aku berlaku begini karena aku tak mau kehilangan Jongin dan aku tak mau melepas dia! Aku sayang dengannya!" Seung woo menjawab dengan sangat mantap sementara kedua yeoja itu malah tertawa-tawa "apa kau tertawa-tawa? Memangnya lucu? Aku serius!" "Aku perlu bukti. No proof hoax" ucap Heerin "kalau aku bertemu Jongin aku akan mengatakan padanya kalau aku masih sayang dengannya dan aku...juga tidak akan melepasnya lagi. Aku telah membuat keputusan bodoh dengan mengatakan padanya 3 bulan lalu. Selama 2 minggu aku memikirkan ini akhirnya aku sadar. Dia yang terpenting dalam hidupku" kedua yeoja itu masih tertawa sambil melihat ke belakang Seung woo. "Apasih yang kalian tertawa....kan? Jongin??" Seung woo langsung kaget saat tahu Jongin ada di belakangnya sambil tersenyum "aku tahu kau tak akan melepasku Woo~ah" "sejak...kapan...kau...disitu? JADI KAU DENGAR SEMUA?!" Jongin pun mengangguk "KAU TAHU AKU MENGATAKAN AKU MASIH SAYANG PADAMU JUGA?!" Jongin mengangguk lagi "tak usah ditutupi Woo~ah...aku juga sudah tahu. Kau pikir aku tidak menghubungimu lalu aku melepasmu begitu saja? Ani. Aku melihatmu dari kejauhan" "a-ah? Geuraeyo? Jadi teddy bear itu?" "Maja...itu aku yang memberi. Dan kau tahu tidak? Boneka teddy bear itu aku tanam sebuah kamera jadi aku bisa melihatmu sedang apa di kamar" "Ya! Tak ada izin untukmu melihat kegiatanku! Jadi kau melihat aku saat berganti baju? IYA?!" Jongin lalu tersenyum "maybe?" Seung woo lalu memukul Jongin "dasar byuntae! Nappeun namja! Ya! Jadi kau dengar saat aku berbicara yang saat itu juga?" "Yang kau tak yakin perasaanmu itu? Yang aku disuruh berdoa agar kau yakin lagi? Ah aku selalu berdoa agar kau bersama ku lagi" Seung woo hanya terdiam lalu berbalik melihat temannya "kalau kami tak melakukan ini kau tak akan pernah kembali padanya!" "Kau mau tahu siapa anak kecil itu? Itu sepupuku!" Ucap Heerin "Heerin neo!" "Kau tahu siapa yang mengidekan ini? Aku"ucap Hyun ra "yeudeura neo jeongmal! Ah sudahlah...tapi bagaimanapun gomawo kau sudah menyatukan aku dengan dia" "cheonmaneyo Lee Seung woo!" Ucap kedua anak itu "ah kita harus pergi. Nikmati waktu berdua kalian!" Kedua anak itu pun pergi meninggalkan Seung woo "ya! Ya!" Seung woo ingin mengejar mereka namun Jongin malah menariknya. Jongin lalu membisikkan sesuatu ke telinga Seung woo "bagaimana kalau kita makan ayam? Aku lapar chagi. Sudah lama aku tak makan bersamamu" "m-makan saja sendiri! Kau kan bisa makan tanpa aku" "Lee Seung woo. Kau mulai menggodaku ya? Turuti saja" ucap Jongin dengan suara rendahnya "a-arasseo. Kkaja" Jongin lalu tersenyum dan menarik Seung woo untuk menaiki mobilnya dan menuju restoran ayam.
                                   0o0
Jongin memakan ayam dengan asyiknya sementara Seung woo hanya memakan salad ayam sembari melihat namjanya itu "wae?" Tanya Jongin sambil menatap Seung woo yang sedari tadi melihatnya "aniyo. Keunyang....mengingat masa lalu. Dulu kan aku suka menemanimu makan ayam sekarang juga begitu" "bahasamu seperti kita sudah berpisah saja. Kita kan tidak berpisah" "memang sih...tapi tetap saja" "Woo~ah...kau tahu tidak? Aku lebih senang jika kau menganggap hubungan kita tak ada masalah dibanding ada masalah seperti ini. Aku merasa seperti hubungan kita tak berjalan mulus. Aku mau....kalau kita terus menjalani apa yang ada tanpa melihat ke belakang. Yang lalu biarlah saja berlalu biarkan mereka jadi pelajaran untuk kehidupan mendatang, arrachi?" Seung woo pun hanya mengangguk selagi mengemut sendoknya itu "eih kau ini. Sendok malah diemut. Makan saladnya" Seung woo menggeleng "kenyang..buat mu saja" "ckck dasar manja" Jongin lalu mengambil makanan Seung woo dan mulai memakannya. Seung woo hanya tersenyum melihat kelakuan namjanya itu. Setelah selesai makan, mereka berdua pun menuju ke daerah Cheongdamdong. "Mau apa kesini?" Seung woo bertanya dengan wajah polosnya "temani aku beli baju. Kau yang pilihkan ya" Jongin terus saja menyetir dan menuju ke tempat yang ia mau. Mereka kini telah sampai di sebuah distro. Jongin menggandeng Seung woo dan menyuruhnya untuk memilihkan baju untuknya "ini bagaimana?" Jongin membawa sebuah long shirt "ah jangan itu. Kau biasa memakai itu" Seung woo lalu menoleh dan menemukan sebuah kemeja panjang press body untuk Jongin "ah! Ini saja! Ini bagus" "aku coba ya" Jongin lalu menuju ke fitting room untuk mencoba bajunya "eotte?" Seung woo hanya mengangguk layaknya desaigner "bagus. Lalu sekarang mau beli apa lagi?" "Tunggu disini" Jongin lalu pergi entah kemana dan meninggalkan Seung woo di area baju lelaki sendirian. Tak lama, ia kembali dengan sebuah dress se lutut dengan bagian pinggang yang dilipat ke dalam serta tangan yang buntung. "Cobalah" Jongin menyodorkan gaun itu pada Seung woo "aku? Kau mau aku mencoba ini?" "Ya iyalah. Masa aku yang mencoba ah kau ini" Seung woo tersenyum dan lalu mengambil gaun itu dan mencobanya. Seung woo keluar dari fitting room dengan gaya yang sok seksi. Dari berpose merapikan rambut didepan kaca sambil memajukan bibir, bergaya seakan sedang meratakan lipbalm dengan bibir dan yang lebih parah ia malah berpose mengatakan "wah" sambil meletakkan kedua tangannya di samping pipinya dengab wajah yang dibuat seperti anak kecil. Jongin hanya bisa diam melihat kelakuan Seung woo. Selain karena gaunnya yang tampak menggoda, juga karena hal aneh yang Seung woo lakukan tadi. Seung woo lalu menoleh ke arah Jongin yang diam dengan wajah bosannya sambil bersandar pada sofa dan menyilangkan tangannya itu padahal dalam hati Jongin sangat ingin memeluk anak itu dan juga ingin memainkannya layaknya boneka "sudah selesai drama di depan cerminnya?" "Eotte? Bagus kan?" Seung woo bertanya dengan wajah berseri-seri "bagus... aku suka. Joha kita beli itu. Kkaja" kedua anak itu pun menuju ke mobil dan pulang ke rumah masing-masing. Jongin mengantar Seung woo pulang kerumah terlebih dahulu lalu baru ia pergi ke aparte nya "gomawo" ucap Seung woo "untuk apa?" "Semuanya. Dari kejadian di Cafe sampai malam ini" "aku juga mau berterima kasih denganmu" "aku? Kenapa?" "Karena akhirnya kau mau kembali denganku" Seung woo lalu memukul Jongin pelan "ah bisa saja" Jongin lalu tersenyum dan memeluk Seung woo "kita akan terus seperti ini sampai kapanpun. Aku janji tidak akan membuatmu kecewa lagi apalagi meninggalkanku seperti kemarin" "arasseo...aku tidak akan kabur tapi aku akan menyelinap ke hati orang lain" "Neo!" Jongin menatap Seung woo sebal sementara Seung woo malah tertawa pada Jongin "hati-hati mengemudi. Jalja" "neo do jalja. Kalkae" Jongin lalu mencium pipi Seung woo dan segera meluncur pulang ke aparte nya. Seung woo pun masuk ke rumah dengan perasaan gembira.

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

-end

Sunday, July 6, 2014

Chapter 12 - Who Am I?

Matahari telah naik, Seung woo yang masih terlelap itu segera bangun dari tidurnya. "Jam berapa ini?" Ternyata masih jam 8 pagi. Seung woo lalu menutup wajahnya dengan bantal dan pergi tidur lagi. Tapi tak lama, Chanyeol masuk dan membangunkan Seung woo "Woo~ah...ireona sudah pagi" Seung woo tetap tak bangun "Woo~ah..." Seung woo masih saja tak bangun hingga akhirnya Chanyeol menggendong Seung woo ke ruang tamu. Adegan tadi disaksikan oleh keempat anak itu. "Uuhh romantis sekali kau. Yeojamu kau gendong ke ruang tamu" ucap Hyun ra sambil mengoles selai ke roti tawar "oh iya dong. Aku harus bersiap sebelum aku menikahi Seung woo" Seung woo masih setengah sadar mendengar ucapan Hyun ra "haus" Ucap Seung woo lemah "mau minum apa? Susu?" Seung woo mengangguk "arasseo. Chakkaman" Chanyeol lalu mengambilkan susu dingin dan memberikannya pada Seung woo. "Wah menyebalkan. Aku malas melihat pemandangan ini" Sehun mengomel sambil memakan roti tawar dengan kasar "iri yaaa??" Hyun ra tertawa karena sikap Sehun yang kekanak-kanakan "geurae! Aku juga ingin bisa romantis seperti dia!" "Yasudah lakukan susah sekali" Sehun lalu mendekati Heerin dan memeluknya dari belakang "perlu bantuan apa?" "Tidak usah toh aku sudah merasa bisa melakukannya sendiri kok" "tuhkan! Yah..kau ini..aku juga mau seperti Chanyeol. Membangunkan yeojanya, menggendong ke ruang tamu, lalu memberinya susu dingin. Kalau aku kan semuanya kau yang menyiapkan" "yasudah besok saja kalau mau bantu" "bantu apa?" Sehun mulai antusias "bantu mencuci baju. Kau mau?" "Yaahh...yang lain?" "Eum.....hanya menjadi namja yang manis cukup membantu kok" Sehun lalu mencium pipi yeojanya itu "gomawo. Kau amat perhatian" Heerin hanya tersenyum pada Sehun. "Sepertinya hanya kita yang tak romantis" ucap Tao pada Hyun ra "hayoo kau mau apa hayoo?" "Eum...kalau begini bagaimana?" Tao menggigit roti yang Hyun ra buatkan tadi dan menyuruh Hyun ra menggigit roti yang tengah ia gigit. Hyun ra hanya tertawa sambil memukul pelan Tao. "Ah kau! Coklatnya belepotan ke mulutku!" "Sini aku bersihkan" Tao pun menyeka coklat itu dari bibir Hyun ra. Chanyeol yang sedari tadi memeluk Seung woo yang sedang meringkuk di sofa sambil tidur itu melihat ke arah Tao "wah...saingan dia denganku. Kau tak akan bisa mengalahkan kami" keempat anak itupun kesal dan segera keluar ke pantai "biarkan saja anak dua ini disini. Toh kan siapa tahu saja hari ini ada kejutan" ucap Sehun. Chanyeol hanya menatapnya garang karena takut rahasianya dibocorkan oleh Sehun. Setelah keempat anak itu keluar, Chanyeol masih tetap memeluk Seung woo di ruang tamu itu.
                                 0o0
Keempat anak itu berjalan-jalan di pantai sambil menikmati udara pantai "wah...bau laut" ucap Hyun ra "terakhir kau ke pantai kapan?" Heerin bertanya pada Hyun ra sambil melihat karang yang dihempas ombak "eum......saat aku masih smp? Kalau tak salah sih saat itu" "oh ya? Lama juga ya..aku sih baru bulan lalu ke pantai" "dengan Sehun?" "Aniyo. Dengan eomma dan appa" "oh..." Sehun lalu memanggil Tao "Tao~ya! Main yuk. Bagaimana kalau voli pantai?" "Wah...ide bagus. Kebetulan disana ada anak yang bermain voli kita join saja" "nah...cerdas" keempat anak itu pun langsung join untuk bermain voli pantai dengan pemuda setempat sementara para yeoja melihat permainan mereka. Setelah cukup lama bermain, mereka akhirnya memutuskan untuk bermain jet ski. Hyun ra dibonceng Tao sementara Heerin dibonceng Sehun. Mereka pun dengan asyiknya bermain ski air sampai matahari berada di atas kepala mereka "oy sudah panas nih...pulang yuk takut hitam nih" ucap Hyun ra "wah kalo Hyun ra hitam gawat! Ppali!" Tao segera menuju daratan dan kembali ke villa begitu pula Sehun. Mereka pun pulang dengan keadaan senang sementara kedua anak tadi malah tertidur di sofa "yah..dia tidur disini" ucap Sehun "biarkan saja. Toh juga yang punya acara sebenarnya dia kan?" Ucap Tao sambil melihat Chanyeol yang tertidur di sofa bersama Seung woo "acara apasih? Aku tidak mengerti" Hyun ra mulai mencium kecurigaan dari kalimat Tao dan Sehun "kalian tak tahu ya? Ah iya kalian para yeoja tau apa" ucap Tao meremehkan. Hyun ra yang kesal diremehkan begitu pun langsung menginjak kaki Tao "ppali malhae!" "Jangan keras-keras! Nanti ketahuan. Di kamarmu saja ya. Semua nanti ke kamar Hyun ra setelah mandi arasseo?" Yang lain pun mengangguk setuju. Keempat anak itupun segera membersihkan badan mereka sedangkan Chanwoo couple tetap saja tidur. Setelah membersihkan tubuh, anak-anak itupun berkumpul di kamar Hyun ra "jadi...sebenarnya nanti akan terjadi apa?" Tanya Hyun ra "jadi..Seung woo akan dilamar Chanyeol" ucap Tao sengan gamblangnya "MWO?!" kedua yeoja itu terkejut sedangkan para namja sibuk membekap mulut para yeoja "ya! Jangan keras-keras nanti ketahuan" Sehun mulai panik setelah kedua yeoja itu berteriak "oh iya benar juga" Heerin akhirnya mulai tenang "kapan dia akan dilamar? Lalu kita?" "Nah....kita diam saja dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Soalnya kalau kalian terlibat juga ya sudah gagal" setelah mendengar penjelasan Sehun kedua anak itupun menjadi kecewa "padahal aku mau lihat lamaran Seung woo" ucap Hyun ra "gampang. Kata Chanyeol, kalau mau melihat datang saja ke pantai tapi sambil sembunyi-sembunyi soalnya dia melamarnya di pantai" "UWAAAHHH" kedua yeoja itu berteriak lagi "kalau kalian masih berteriak kita tak akan cerita lagi" ancam kedua namja itu "mian...habisnya romantis sekali" "aku juga mau dilamar begitu!" Ucap Hyun ra yang tak sadar kalau ada Tao disitu "kau mau aku lamar di pantai? Bisa kok sekarang" "hah?! Itu kan hanya basa-basi. Jangan dianggap serius" Muka Hyun ra memerah setelah mengatakan hal itu pada Tao. Sementara 4 anak itu diatas, 2 anak yang dibawah masih tidur dan masih terlelap. Tak lama, Seung woo menggeliat dan merasakan seseorang memeluk tubuhnya. Seung woo pun menengok ke belakang dan ternyata itu Chanyeol. Seung woo pun berbalik dan memeluk Chanyeol. Chanyeol ternyata sadar kalau Seung woo memeluknya dan tersenyum. "Sudah bangun?" Ucap Chanyeol dengan suara seraknya "mm..sekarang jam berapa?" Chanyeol melirik jam dan ternyata "jam 12" "oh..." sesaat Seung woo tak sadar lama-lama "WHAT?! BERAPA?! 12?!" Seung woo langsung bangun dan lari ke kamarnya "dia kenapa lagi ckck...ah iya anak-anak kemana ya?" Chanyeol mulai berkeliling dan menemukan anak-anak itu tengah tertawa di kamar Hyun ra yang agak sedikit terbuka "wah...ada apa ini?" Keempat anak itu hanya tersenyum pada Chanyeol "tidak ada apa-apa. Seung woo kenapa? Kok lari-lari? Tadi terdengar suaranya saat teriak" tanya Hyun ra "molla. Dia suka begitu" "ooh...ah iya nanti malam kita mau ke festival dekat sini kau mau ikut?" "A-ah aku ada acara lain jadi tak ikut. Kalian saja dulu nanti aku menyusul" "kuajak Seung woo ya?" "Seung woo denganku" "ah..okay" ucap Hyunra. Tak lama, Seung woo pun memanggil Chanyeol "Yeollie~ah! Turun dulu sebentar aku butuh bantuanmu!" "Ne!" Chanyeol pun turun menghampiri Seung woo. "Wah...sepertinya ada yang menjadi lebih serius nih. Kau bagaimana Heerin~ah?" Hyun ra melirik Heerin usil "mwo? Naega mwo? Kita lihat nanti saja lah" Sehun hanya tersenyum pada Heerin "apa senyum-senyum?" "Aniya. Hanya senyum memang tak boleh? Ah kau ini" "b-bukan begitu...kukira...kau punya motif lain" "motif lain? Ah kau kebanyakan nonton film misteri jadi begini kan? Ckck" Sehun lalu pergi keluar kamar Hyun ra "Heerin~ah...kau blushing ya?" Ledek Hyun ra lagi "ANIYA!" Heerin lalu keluar menuju ke kamar mandi. Tinggal Tao dan Hyun ra yang berada di kamar itu. "Jadi Park Hyun ra~ssi bagaimana kalau kita menyusul Chanyeol juga?" Tanya Tao dengan nada usil "eih...kau masih jadi atlet ingat itu. Kau masih ada jadwal tanding yang padat sampai tahun depan jadi....lupakanlah dulu rencana kau mau menyusul Chanyeol" "aish memang menyusahkan. Yasudah kalau begitu aku mau turun dulu ya kau ikut?" "Nanti saja aku mau mandi dulu" Tao lalu turun meninggalkan Hyun ra sendiri di kamar sementara Heerin dan Sehun pergi ke pantai lebih dulu. Tao pergi ke halaman depan untuk menunggu Hyun ra sembari melihat pantai.
                                 0o0
Sementara 2 anak itu, Chanyeol dan Seung woo, mereka tengah berada di kamar Seung woo. "Kau tadi memanggilku? Kenapa?" "Ah itu...begini jadi eomma bilang dia menitipkan paket ke villa ini. Kata ahjumma sih di atas lemari. Tolong ambilkan ya? Kau kan tinggi" "oh itu hahaha okay" Chanyeol lalu mencoba mengambil sebuah kotak yang berisi paket dari eomma Seung woo "ini kan?" Seung woo mengangguk "gomawo" "aku tinggal dulu ya" Chanyeol lalu meninggalkan Seung woo dengan kotak itu. Seung woo pun membuka kotak itu ternyata di dalam situ ialah sebuah dress putih dengan bahan satin. Disitu juga diletakkan bando perak dan parfum berbau Vanilla. Saat Seung woo melihat ke lemari, ia menemukan heels perak untuk ia kenakan nanti. "Kenapa eomma tiba-tiba mengirimi ini? Aneh" saat ingin meninggalkan kamar, ia menemukan sebuah catatan di dalam kotak itu

'pakailah saat malam nanti. Akan ada acara yang harus kau hadiri nanti. Ini untuk masa depanmu. Nae saranghaneun ddal ♡'

"Ah pasti rapat kepengurusan perusahaan. Aish itu lagi. Arasseo eomma naega kkanda" Seung woo lalu pergi keluar kamar untuk menonton tv. Tak disangka, tak beberapa lama hujan turun di Jeju "wah..hujan. Tumben ya" karena hawanya dingin, Seung woo membuat coklat panas untuk dirinya sendiri. "Ah anak-anak itu kemana? Hujan begini malah keluar. Yeollie juga kemana lagi ah dasar masa aku ditinggal sendiri dirumah" Seung woo menggerutu dengan kencangnya hingga tak sadar Chanyeol masuk dan menuju dapur. Seung woo pun menoleh dan melihat Chanyeol lewat. Karena takut ketahuan Chanyeol dia sedang menggerutu, Seung woo pun mengomeli Chanyeol "YA! NEO! MAU APA KAU KESANA?! BIKIN KAGET SAJA!" "aku cuma mau ambil minum. Tidak boleh?" Seung woo lalu kembali fokus pada coklat panasnya itu. Tak lama, Chanyeol kembali dengan segelas Capucinno di tangannya. "Ih Capucinno! Mau dong!" Chanyeol lalu memberikan gelasnya pada Seung woo. Setelah Seung woo meminum Capucinno itu, Chanyeol pun mengambil gelasnya itu "bekas mu yang mana?" "Ini" Seung woo menunjuk bekas ia minum. Bukannya memilih tempat lain, ia malah meminum dari tempat yang sama dengan Seung woo "ya! Jorok ih!" "Alah. Tak apa kan kau ini" setelah selesai meminum cappucino nya, Chanyeol malah menggenggam tangan Seung woo. Seung woo pun langsung melihat Chanyeol dengan senyum manisnya. Seung woo pun jadi ikut tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Chanyeol. Tiba-tiba Chanyeol mencium tangan Seung woo yang tengah ia genggam itu 'Tuhan...aku tak ingin bangun dari mimpi ini jikalau ini memang mimpi. Kumohon, satukan kami dalam dunia yang nyata ini dan jangan pernah pisahkan kami. Kuharap kita berdua bisa selalu bersama sampai maut memisahkan' batin Seung woo. "Kau kenapa memejamkan mata begitu? Sakit?" Tanya Chanyeol yang melihat yeojanya tengah memejamkan mata "aniyo. Sedang berdoa" "yaampun kau ini. Ah iya kau tahu kan?" Seung woo menatap Chanyeol bingung "tau apa?" "Pertemuan perusahaan abeonim" "ah itu...tahu kenapa?" "Aku juga diundang. Untuk menemanimu" "ah geurae? Baguslah akhirnya ada yang menemani. Kapan berangkat?" "Jam 6. Ini sudah jam 4 kau siap-siap saja, ne? Kau kan perlu berdandan iya kan?" "Arasseo. Tunggu aku ya?" Seung woo lalu mencium pipi Chanyeol "keurom. Jangan lama-lama ya? Nanti aku bosan" ucap Chanyeol sambil mengelus pipi yeojanya itu. Seung woo lalu tersenyum pada Chanyeol dan menuju kamarnya untuk bersiap.
                                 0o0
Satu jam kemudian, Seung woo sudah siap dengan riasannya. Rambutnya juga telah ditata dengan cantik. Kini, ia siap berangkat. "Woo~ah..sudah selesai?" "Ne! Tunggu sebentar! Aku mau pakai sepatu dulu" setelah memakai sepatu, ia keluar kamar dengan terburu-buru "maaf ya lama...maklumlah yeoja" bukannya menjawab Chanyeol malah melamun. Seung woo pun menjentikkan tangannya didepan wajah Chanyeol "hoi...gwenchana?" "A-ah gwenchana...keunyang neo neomu yeppeuda..aku sampai tak bisa berkata-kata" "hahaha tak usah gombal. Jalan yuk" "okay!" Mereka pun keluar dan mendapati sebuah sedan hitam menunggu mereka "wait. Mobil siapa ini?" Seung woo lalu melihat ke arah mobil itu heran "ini bukan mobilku yang jelas. Soalnya mobilku mobil sport" ucap Seung woo lagi "ah kau banyak komentar. Ini mobil pribadi keluargamu saat ke Jeju lah ah kau ini" "ah iya ya? Kok aku tak tahu?" "Apa yang kau tahu sih nona Lee? Sepertinya kau tak tahu apa-apa" ledek Chanyeol "ya! Neo!" "Hahaha bercanda. Kkaja" kedua anak itupun menaiki mobil itu dan segera menuju ke tempat tujuan. Sesampainya disana, Seung woo bingung dengan dekorasi dari acara tersebut "hah? Banyak bunga? Putih pula. Lalu, ini ada semacam kain ckck bukan acara formal" "kata siapa? Perusahaan ayahku kalau menghias dekorasi acara begini" ucap Chanyeol "ya itukan kau bukan aku. Ada apa sih sebenarnya?" "Kau akan....diberikan saham oleh ayahmu" "saham? Aku saja tak bisa mengurus perusahaan" "tenang. Kan ada aku" ucap Chanyeol sambil menyikut Seung woo "kau sadar tidak sikutmu itu bagai pisau? Sakit tau!" Chanyeol lalu membackhug Seung woo sambil tersenyum bahagia "aigoo....mianhae uri chagi" tak lama, ayahnya Seung woo dan Chanyeol datang. Seung woo langsung menyikut Chanyeol agar melepaskan pelukannya tapi Chanyeol terus memeluknya "wah wah..ternyata kalian sedang bersenang-senang ya? Wah salah kita kalau berada di sini tuan Lee" ucap ayah Chanyeol sambil tertawa "a-aniyo ahjussi...ini memang dasarnya Chanyeol saja yang berlebihan. Ya! Lepaskan" "andwae. Biarkan saja appa tahu nanti juga kalau kita menikah appa dan abeonim tahu. Iya kan abeonim?" Ayah Seung woo hanya mengangguk sambil tersenyum "keundae appa...berarti saat aku melihat kalian di bandara itu...benar kalian? Iya?!" Ayah Seung woo hanya mengangguk sambil tersenyum "ah appa! Harusnya kau bilang kalau ke Jeju juga. Kalau ada appa kan aku tak harus duduk dengan jerapah ini" kedua ayah itu hanya tertawa dan hanya Chanyeol lah yang protes "tidak bisa begitu lah! Enak saja" "kita merahasiakan keberadaan kami agar kalian berdua bisa lebih dekat. Itu saja sih" ucap ayah Seung woo dan diiyakan oleh ayahnya Chanyeol. "Sudah sana kalian duduk. Pasti lelah kan berdiri terus? Tempat duduk kalian berdua di ujung depan ya" ucap ayah Chanyeol "ah ne...kamsahamnida ahjussi" ucap Seung woo ramah "jangan ahjussi. Panggil saja appa atau abeonim" "a-ah ne...abeonim" kedua ayah itu pun pergi sambil berbincang ringan sementara Chanyeol tertawa kecil saat mendengar Seung woo menyebut ayahnya abeonim "apa kau tertawa? Memang lucu?" "Sangat. Wah...aku memikirkan sebentar lagi kita menikah dan punya anak" "simpan pikiranmu itu tuan Park. Aku masih mau bersenang-senang dulu" "tenanglah nona Lee. Aku jamin hidupmu akan menyenangkan kalaupun kau sudah mempunyai Hara" Chanyeol pun merangkul Seung woo dan membawanya menuju ke tempat duduk yang dimaksud. Selama acara berlangsung, Seung woo hanya memasang wajah bosan dan terkadang tersenyum. Malah dia kadang mengajak ngobrol Yeol yang sebenarnya dia sedang nervous untuk mempersiapkan kata-kata apa yang pas untuk ia melamar Seung woo didepan nanti. "Baiklah...kali ini kami akan memulai pengakuisisian perusahaan Jaewoo group dan Jaeyeol group. Kepada pimpinan silahkan naik ke atas podium" kedua appa mereka pun naik dan menandatangani surat pengakuisisian perusahaan. "Ehem..para hadirin. Kami disini selain mengadakan pengakuisisian perusahaan, kami juga ingin menyatukan 2 keluarga menjadi satu. Yaitu...kami ingin menyatukan kedua pewaris perusahaan menjadi sebuah pasangan yang nantinya akan meneruskan perusahaan. Kepada Park Chanyeol dipersilahkan naik ke atas podium bersama dengan Lee Seung woo selaku pewaris perusahaan Jaewoo group" ucap ayah Seung woo panjang lebar. Seung woo hanya bertampang bingung dan masih saja bertampang bingung saat Chanyeol menyeretnya ke atas podium "ya! Ini ada apa sih?" Seung woo berbisik pada Chanyeol. Bukannya menjawab, Chanyeol malah memegang erat kedua tangan Seung woo "nona Lee....sebenarnya...aku yang merancang acara ini dengan uri appa. Saat kau melihat ada bumeonim mu dan juga Luhan hyung itu memang benar dia. Kau tahu? Aku ingin menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku. Yang akan memberikan Hara kehidupan di dunia ini, yang akan merawatku setiap hari, yang akan mengomeli aku karena aku yang ceroboh, yang menjadi alasan mengapa aku tertawa. If Rihanna Love the way you lie, I will say I love the way you smile, Woo~ah..so would you be mine? Would you be the last woman that I have? Would you be Hara eomma forever?" Seung woo hanya bisa diam dan membatu "Woo~ah...jawablah Chanyeol menunggu" ucap ayah Seungwoo "ah appa! Aku bingung! Ini lebih susah dari membuat skripsi tau!" Semua orang tertawa mendengar ucapan Seung woo "kalau aku tidak menerima?" "Yasudah aku akan melamarmu terus sampai kau mau" "kalau aku selalu bilang tak mau?" "Yakin?" "Y-yakin" "aku tahu kau bohong" "apanya bohong!" "Jawab aku. Kau suka bubble tea apa cappucino?" "Cappucino" "joha. Berarti kau menerima lamaranku" Seung woo diam sejenak dan lalu "HAH?! KOK BISA?!" "Bubble tea itu Sehun dan Cappucino itu aku. Kau pilih Cappucino kan? Berarti kau pilih aku" Chanyeol tersenyum bahagia "astaga...baiklah tuan Park..aku tak bisa bohong darimu. Aku terima lamaranmu" "yes!" Chanyeol langsung memeluk Chanyeol didepan para hadirin dan para ayah itu. "Ya! Ya! Aku tak bisa napas! YA!" Seung woo memukul-mukul punggung Chanyeol agar ia melepaskan pelukannya. Pata hadirin pun tertawa atas kelakuan dua anak ini. "Mian..aku terlalu bersemangat. Ah iya tapi kau tak akan menarik kata-katamu kan?" "Kau tak percaya? Tanya saja pada appa kapan aku berbohong?" Bukannya membela anaknya, ayah Seung woo malah berkata sebaliknya "Yeol~ah, Seung woo itu sering bohong. Dulu saat kecil saja dia nakal dan tak bisa diatur. Aku saja tak percaya padanya" Chanyeol lalu melihat Seung woo dengan tatapan bingung "APPA!" Seung woo melihat ayahnya dengan tatapan kesal sementara ayahnya hanya tertawa "walaupun uri Woo~ah dulu nakal, tapi dia tak pernah bohong kok. Dia polos" Chanyeol hanya tertawa sambil bergumam "polos apanya? Cih" "bilang apa kau tadi? Meremehkanku hah Park Chanyeol~ssi?" Ucap Seung woo sambil menatap tajam Chanyeol. Chanyeol pun menarik Seung woo turun dari podium dan mengajaknya duduk kembali. Para dewan direksi terus saja melihat mereka dengan perasaan lucu akan kelakuan mereka.
                                   0o0
Pagi itu, Seung woo masih terlelap di kasurnya yang empuk itu. Ketika ia ingin berbalik, ia mencium bau parfum maskulin di sebelahnya. 'Ah paling halusinasi saja' Seung woo pun berbalik. Bukannya memeluk guling, dia malah memeluk sesosok manusia berbau maskulin itu. Karena merasa ada yang janggal, Seung woo pun membuka matanya. Saat ia membuka matanya, ia melihat seorang namja tengah tertidur di sebelahnya dengan tenang. Bukannya membiarkan Chanyeol tidur, Seung woo malah membangunkannya. "Oi.....kapan kau tidur disini? Perasaan aku tidur sendiri semalam" "tadi malam....yaa sekitar jam 12 lah. Aku tak bisa tidur makanya kesini" gumam Chanyeol sambil memejamkan matanya "siapa yang memberimu izin tidur disini hah? Sembarangan saja" "ya! Bulan depan kita menikah" "oh menikah...." Seung woo terdiam sejenak dan lalu "WHAT?! WHAT DID YOU SAY BEFORE HAH?! ARE YOU KIDDING ME?! NO WAY!" "Siapa yang bercanda? Memangnya aku suka bercanda? Tanya saja pada eomma mu" "ah bohong" "tak percaya? Aku telpon eomma sekarang" Chanyeol pun menelpon ibunya

"Yeobseo?"
"Oh eomma?"
"Oh adeul...wae? Pagi-pagi sudah menelpon. Museun iriseo?"
"Kapan aku menikah eomma?"
"Kenapa bertanya?"
"Woo~ah tak percaya kalau kita menikah bulan depan"
"Hahahaha.....yaampun. Kan eomma sudah bilang ini rahasia. Ah kau tak bisa menyimpan rahasia rupanya"
"Habis aku tak boleh masuk ke kamarnya makanya aku bilang saja begitu"
"YA! Belum saatnya kau masuk ke kamar Seung woo apa-apaan kau ini!"
"Ah eomma! Kau juga mengomeli aku seperti Seung woo?"
"Kau boleh masuk kamarnya bulan depan! Apa-apaan kau ini! Kalau sampai ada sesuatu bagaimana?"
"Ah tidak akan...aku kan anak baik"
"Sudahlah ini terakhir kalinya kau tidur dengan Seung woo! Besok-besok kalau tak bisa tidur, tidurlah di ruang tamu arasseo?"
"EOMMA!"

Seung woo hanya tertawa mendengar ucapan ibunya Chanyeol "puas kau?" Tanya Chanyeol dengan tatapan yang mengerikan "puas sekali! Wah eommonim memang baik! Love you eommonim!!" "Sudah ah kalau kau jahat begitu. Aku keluar nih" "wait! Aku ikut" "tak boleh!" "CHANYEOLLIE NEO! YA!" Chanyeol pun segera lari keluar kamar Seung woo dan Seung woo pun mengejar Chanyeol sambil membawa bantal. Keempat anak yang sedang di ruang tamu itu lagi-lagi heran "ada apa lagi dengan mereka? Ckck dasar" ucap Sehun dengan nada datarnya "EHEM SEPERTINYA SEMALAM ADA YANG TUNANGAN" Teriak Hyun ra sehingga membuat kedua anak yang sedang bertengkar di meja makan itu pun menoleh "tau darimana?" Ucap keduanya berbarengan "dari.........sumber terpercaya lah" "Oh Sehun...." Chanyeol langsung melihat Sehun nanar "apa? Kalau kabar gembira kenapa ditutupi? Toh yeojamu juga tak tahu" "ah iya juga sih...tapi tetap saja!" Heerin dan Tao yang sedari tadi diam hanya bisa mengehela napas karena kelakuan Chanwoo couple. "Aku bosan" ucap Hyun ra pada Tao "mau main apa?" "Apa ya? Woo~ah pinjam psp mu dong" Seung woo lalu segera menuju kamarnya untuk mengambil pspnya "nih. Jangan sampai rusak ya" belum sempat Hyun ra mengambil psp itu, Chanyeol langsung menyambar psp milik Seung woo "kau pakai punyaku saja. Ini untukku" "lah apa-apaan kau?! Kau memangnya siapa mengambil psp milik Seung woo?" "Aku? Aku tunangannya wae?" "Ya terus kalau kau tunangannya aku tak boleh meminjam pspnya begitu? Iya?!" Chanyeol hanya diam saja sembari memainkan psp Seung woo. Seung woo hanya bisa menghela napas mengetahui perbuatan namjanya itu. Hyun ra hanya melihat Chanyeol sebal karena mengambil psp milik temannya itu. "Yeol~ah psp ku berikan pada Hyun ra" titah Seung woo "andwae. Aku tak akan menurut padamu" "ya! Berikan saja!" "Tidak. Aku tak akan memberikannya sampai kau mau meminta maaf padaku karena mengusir ku keluar kamar tadi" "siapa yang mengusir sih? Aku kan hanya bertanya saja kenapa kau ada di dalam kamarku. Itu saja" "tuhkan. Itu sama saja kau tak suka aku di kamarmu" "jangan memulai pertengkaran. Aku sedang malas bertengkar. Berikan saja" "tidak mau" "berikan!" "Tidak!" Seung woo dan Chanyeol saling memperebutkan psp itu. Karena tenaga Chanyeol lebih kuat, alhasil Seung woo jatuh duduk di pangkuan Chanyeol. "Nah...kalau begini baru aku akan memberikanmu" Chanyeol tersenyum sembari menyodorkan pspnya pada Seung woo "apa-apaan kau?! Ah dasar!" Seung woo lalu bangun dan memberikan pspnya pada Hyun ra "dasar kau cari kesempatan dalam kesempitan!" Omel Hyun ra pada Chanyeol "biarkan saja. Lagi sih dia sok galak padaku padahal kan.." "apa kau?" Seung woo dengan sewot menatap Chanyeol. Bukannya merasa bersalah, Chanyeol malah tertawa karena melihat wajah Seung woo "aigoo uri aegi neomu kyeopta!" Seung woo dengan wajah malasnya pun langsung masuk ke kamar "ya! Ya! Hara eomma! Eodiga?!" Chanyeol pun menyusul Seung woo masuk ke kamar sementara yang lain hanya bisa berdecak pasrah. -tbc

Wednesday, July 2, 2014

Chapter 11 - Who Am I?

2 tahun sudah berlalu. Akhirnya keenam anak itupun selesai kuliah. Mereka lulus dengan nilai terbaik. Setelah mereka menghadiri acara kelulusan, mereka pun segera menuju bandara dan pergi ke pulau Jeju untuk berlibur. "Hyun ra~ya! Tao ikut kan?" Teriak Seung woo dari belakang Hyun ra "dia sedang di perjalanan! Tunggu saja!" Seung woo lalu menyeret kopernya dan langsung duduk di sebelah Heerin yang sedang mendengarkan musik. Seung woo pun akhirnya membuka ponselnya.

                         ' 1 pesan baru
                             Luhannie~'

"Eoh? Tumben. Ada apa ya?" Seung woo lalu membuka pesan dari Luhan

'Nae saranghaneun dongsaeng..ehem sayangnya itu bohong. Ya! Kau sudah lulus ya? Chukkahae! Mian tak bisa datang ke acara wisudamu! Aku sedang di Cina mengurusi perusahaan ayah! Oh iya Hyun woo akan pulang minggu depan pastikan kau sudah kembali dari Jeju ne? Akhirnya kakakmu kembali juga. Oh iya aku juga akan kembali minggu depan bilang pada Chanyeol kalau aku terus mengawasinya arasseo?'

"Mwoya? Hyun woo oppa pulang? Omona! Aku sudah tak bertemu dengannya kurang lebih 15 tahun. Seperti apa rupanya? Aih eomma keterlaluan. Masa aku tak boleh ke Inggris sih? Jahat" Chanyeol lalu menghampiri Seung woo yang sedang bergumam sendiri itu "mwohae?" "Hyun woo oppa akan pulang dari Inggris. Luhan oppa ke Cina. Ah dasar kukira dia akan menelpon tak tahunya hanya sms" "mungkin dia sudah di pesawat" "bisa jadi" ucap Seung woo. "Tao! Neo wasseo? Dari tadi kemana saja?" Tanya Heerin pada Tao "ah cheosunghaeyo aku tadi ada urusan sebentar. Biasa lah minggu depan kan aku tanding basket jadi ada briefing dulu dengan tim" "wah beda ya bergaul dengan atlet seperti kau" "hahaha apanya atlet aku kan hanya seorang pemain saja" "tapi bukan pemain hati Hyun ra kan?" Hyun ra langsung menyikut Heerin "sampai kau mengatakan Tao sama dengan Baekhyun mati kau!" "Siapa yang bilang begitu? Geer saja" "keundae...Sehun eodisseo?" Tao mencari Sehun yang daritadi tak terlihat penampakannya. "Oh....Sehun? Dia sedang beli minum" ujar Heerin "ini kopernya" ucap Hyun ra sambil menendang pelan koper Sehun "Ya! Park Hyun ra jangan ditendang koperku!" Ucap Sehun yang sambil membawa bubble tea. "Bubble tea lagi" ucap Hyun ra sambil mengambil bubble tea dari tangan Sehun "kalau tak mau kenapa diambil?" "Kalau barang gratis harus diambil walaupun kau tak suka. Namanya rezeki tak boleh ditolak" "bilang saja kau mau tapi tak mau mengakui kalau kau mau iya kan? Dasar" Hyun ra masih saja cuek dan meminum bubble tea itu. "Kalian berdua...tak mau ini?" Seung woo dan Chanyeol menoleh ke arah Sehun sambil menunjukkan bubble tea ke dua anak itu. "Gomawo Sehunnie" ucap Seung woo yang mengambil cookies n cream dari tangan Sehun. "Aku berdua Seung woo saja" ucap Chanyeol yang lalu mengambil cookies n cream dari tangan Seung woo "uh pasangan ini romantis sekali tak usah tunjukkan didepanku bisa kan?" Protes Heerin pada Chanwoo couple itu "kau mau juga Shin Heerin? Aku juga bisa" "t-tidak siapa juga yang mau? Kekanak-kanakan" "kalau menurutmu kekanak-kanakan kenapa kau gugup?" Heerin langsung memegangi mukanya "uh panas. Tumben sekali" "itu panas karena kau gugup Shin Heerin" ledek Seung woo pada Heerin " YA!" yang lain hanya tertawa saat melihat Heerin marah. Setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya mereka pun segera melakukan boarding pass. "Chanyeol~ah itu kok...seperti eomma dan appa?" "Eoh mana?" Chanyeol lalu melihat sekitar "ah bukan Woo~ah kau pasti salah" "aniyo! Aku hafal mereka kok! Eomma! Appa!" Chanyeol lalu membekap yeojanya itu "ih kau ini! Bukan babe mereka bukan eommonim" "ah chagi! Luhan oppa! Ya! Neo! Rusa! Danbi!" Chanyeol lalu membekap Seung woo yang berisik sedari tadi. "Dia kenapa?" Tanya Hyun ra pada Heerin "biasa. Autisnya kumat" "oh..." setelah boarding pass, mereka segera masuk ke pesawat untuk terbang ke Jeju "chagi! Tadi itu eomma!" "Lee Seung woo dengarkan aku. Banyak orang yang mirip di dunia ini. Bisa saja itu bukan bumeonim" "ah tapi...sudahlah berdebat denganmu akan membuatku lelah" Chanyeol lalu tersenyum pada yeojanya itu 'hampir saja ketahuan. Sampai ketahuan gagal rencanaku'  gumam Chanyeol.
                                 0o0
30 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai di Jeju. Mereka berempat segera mengambil barang bawaan mereka dan menuju resort yang telah Chanyeol pesan untuk mereka semua. Sebenarnya, yang membooking resort itu adalah orang tua Seung woo tapi mereka mengatasnamakan bookingan tersebut dengan nama Chanyeol. Setelah mereka check in, mereka segera memasuki rumah yang telah dipesan. Rumah itu berlantai 2 dengan banyak kamar. Seung woo dan Chanyeol ada di kamar bawah sementara yang lain berada di atas. Kamar di rumah itu berjumlah 8 jadi memungkinkan ke-6 anak itu mempunyai kamar sendiri. Setelah menata isi koper ke dalam lemari, Seung woo pun menuju balkon dan melihat pantai. Karena menurutnya ini momen langka, jadi ia memotret pantai tersebut dari balkon. Saat sedang memotret pantai, tiba-tiba ia menangkap sesosok manusia tengah tersenyum manis padanya "oi....sedang apa diatas? Turunlah" "tunggu dulu. Disini bagus aku ingin memotretnya dulu" "eih...ppali yang lain juga sudah dibawah" "arasseo" Seung woo lalu turun dan menghampiri Chanyeol yang merupakan sosok manusia yang berada di fotonya itu. Setelah Seung woo turun, Hyun ra berlari kembali ke villa dengan tergesa-gesa "wae? Wae?" Seung woo melihat wajah Hyun ra yang panik "ah...aku ingin pipis makanya lari. Minggir nanti aku mengompol" Seung woo hanya tertawa saat tau Hyun ra berlari karena ingin buang air kecil. Seung woo lalu berjalan dengan pelan sambil menikmati udara pantai.

-flashback-
Seung woo kecil berlari di pantai bersama dengan Hyun woo yang merupakan kakak kandungnya. Dia bermain pasir, mencari keong, dan berlari mengejar ombak. Setelah bermain sampai sore, Hyun woo pun menatap adiknya dengan sayang "wae?" Tanya Seung woo kecil pada Hyun woo "aniya. Hanya saja aku akan merindukan masa-masa ini" "kenapa begitu?" "Aku akan pergi" "pergi? Kemana? Aku ikut ya?" "Andwae. Kau masih kecil. Aku mau sekolah" Seung woo lalu menatap kakaknya sebal "wae? Kau tak mau aku ikuti ke sekolah karena aku masih pakai pampers? Tenanglah! Nanti aku tak pakai pampers lagi" Hyun woo lalu tertawa "anak ini. Bukan itu. Aku....mau ke Inggris" "Inggris? Itu jauh?" "Eum...bisa dibilang...seperti menyebrangi lautan" Seung woo lalu mulai menatap kakaknya itu "kenapa harus kesana? Kenapa tidak disini?" "Aku kesana karena aku harus berpendidikan cukup untuk meneruskan perusahaan ayah. Jadi, kau akan bersama Luhan" "ah..Luhan oppa? Kenapa dia tinggal denganku?" "Karena dia yang mau menjagamu" "lalu kau tak akan kembali dan meninggalkanku dengan Luhan?" Hyun woo lalu tersenyum "aniyo. Aku akan kembali disaat kau menjadi seorang gadis cantik. Disaat kau menjadi lebih dewasa" "tapi itu...lama...umurku 6 tahun dan kau...11 tahun...kalau aku dewasa berarti aku...ah shireo!" Hyun woo lalu memegang bahu adiknya "aku akan kembali menjadi kakak yang membanggakan bagimu. Kau juga harus jadi gadis manis arasseo?" Seung woo lalu memeluk kakaknya sambil menangis di pantai bersama Hyun woo "aku akan selalu ada untukmu. Tenanglah" Hyun woo lalu tersenyum sambil memeluk adiknya.

-back to reality-
Saat sedang melamun, tiba-tiba seseorang merangkul bahunya "apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau tak mendengarkanku?" Omel Chanyeol pada Seung woo "Hyun woo oppa. Hanya dia yang aku pikirkan" "ah...dia. kau amat sangat sayang dengannya ya?" Seung woo hanya tersenyum "mm..dia kakak yang sangat aku sayang" "melebihi rasa sayangmu padaku?" "Eih kalau itu lain cerita" Chanyeol hanya tersenyum mendengar ucapan Seung woo "ah iya..nanti malam kita buat api unggun yuk" Seung woo pun langsung meloncat kegirangan "yes! Aku mau! Nanti kau main gitar lalu aku bernyanyi" "jangan bernyanyi" Seung woo pun langsung murung "wae? Suaraku jelek ya?" Chanyeol lalu mencubit pipi pacarnya itu "aniyo. Aku hanya tak mau yang lain dengar suara manismu" Seung woo lalu memukul pundak Chanyeol pelan "cih gombal" "kkaja!" Chanyeol lalu menarik tangan Seung woo dan membawanya berlari menyusuri pantai. Setelah lelah berlari, akhirnya mereka duduk di pinggiran pantai sambil menggambar di atas pasir "kau gambar apa?" Tanya Chanyeol pada Seung woo yang masih menggambar dengan sebuah ranting "oh..aku menggambar.......chu!" "Chu? Gambar ciptaanmu?" Seung woo lalu tersenyum manis "lucu juga. Tapi tetap lucuan aku" "Park Chanyeol~ssi bisakah kau berhenti untuk terus membanggakan dirimu di hadapanku? Aish kau benar-benar..sampai nanti anakmu seperti mu kasihan kan" "kasihan siapa?" Seung woo lalu menjawab dengan gugup "y-ya kasihan...e-eommanya! Nah iya eommanya!" Chanyeol lalu mendekati wajah Seung woo sambil mengeluarkan evil smirknya. Seung woo kira Chanyeol mau menciumnya tak tahunya dia malah membisikkan sesuatu pada Seung woo "eommanya kan kau. Jadi kau merasa kasihan pada dirimu sendiri? Nona Lee tenanglah aku yakin anakmu tak akan menyusahkan" Chanyeol lalu mencium pipi Seung woo. Seung woo yang kesal lalu memukul Chanyeol "YA!" "Jangan teriak. Nanti disangka aku berbuat yang tidak-tidak padamu" "ah kau!" Seung woo lalu berlari meninggalkan Chanyeol. Namun karena Chanyeol larinya cepat, jadi dia bisa mengejar Seung woo dan menggendongnya "mau apa kau hah?! Turunkan!" "Lihat saja apa yang akan aku perbuat padamu" Chanyeol lalu membawa Seung woo ke arah lautan. Sementara digendong Seung woo terus meronta-ronta hingga akhirnya Seung woo diceburkan ke laut oleh Chanyeol. Untungnya, Seung woo bisa berenang jadi tak ada masalah ia diceburkan di laut. Chanyeol hanya tertawa melihat Seung wo yang ia ceburkan ke laut. Setelah Seung woo berhasil naik, Seung woo lalu menyeret Chanyeol masuk ke laut. Tapi berhubung Seung woo lebih lemah dari Chanyeol jadi usahanya sia-sia saja. "Ah gak fair! Masa hanya aku yang masuk laut kau tidak?!" "Lagian siapa suruh merajuk begitu. Kau sih" "kok aku?!" "Arasseo...kalau begitu.." Chanyeol menggendong Seung woo lagi dan kini mereka berdua sama-sama menceburkan diri ke laut. Setelah sudah benar-benar tercebur ke laut, mereka pun naik lagi dalam keadaan basah semua "pulang saja yuk badanku basah semua" ucap Seung woo "kkaja" kedua anak itu pun kemudian kembali ke villa untuk bersih-bersih. Setelah mereka bersih-bersih dan ganti baju, mereka pun berdua langsung menuju ke perapian di dalam rumah. "Disini saja?" "Jangan lah. Di halaman belakang saja. Nanti aku cari kayu bakar kau diam saja dirumah dengan yeoja yang lain" Seung woo lalu meringkuk diatas sofa sambil mengemut permen lollipop. Tak lama, keempat anak itu pun masuk setelah seharian bermain di pantai "wah wah Chanwoo couple. Apa yang kalian lakukan sampai kalian mandi begini hah?" Tanya Sehun penasaran "menurutmu apa?" Ucap Seung woo sambil mengemut lollipopny "kalian tidak berbuat hal yang belum boleh dilakukan pasangan kan?" Tanya Tao lagi "YA TIDAK LAH!" Ucap Chanwoo couple serempak "kami berenang di laut" ucap Chanyeol "ah cham....yedeura bantu aku cari kayu. Kita akan adakan api unggun dibelakang. Kalian para yeoja dirumah saja atau...mungkin membuat makanan. Aku akan kembali 30 menit lagi" "ne leadernim" para namja pun segera mencari kayu bakar sedangkan para yeoja itupun sibuk memasak makanan ringan untuk api unggun.
                                    0o0
Setelah 30 menit, para namja kembali dengan kayu bakar dan mulai menyiapkan perapian sementara para yeoja sudah siap dengan makanan mereka. Setelah perapian siap, mereka semua duduk bersila mengelilingi api unggun. Chanyeol mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Seung woo mulai bercanda dengan Hyun ra seperti biasa. Sedangkan Tao, Sehun,dan Heerin mengobrol tentang hal-hal biasa. Setelah 15 menit sibuk dengan kegiatan masing-masing, akhirnya Chanyeol mengusulkan untuk bernyanyi bersama "oy bagaimana kalau bernyanyi?" "Nyanyi apa?" Tanya Seung woo "In the summernya Infinite saja!" Ucap Heerin "ide bagus tuh!" Ucap Hyun ra. Mereka pun menyanyikan lagu in the summer milik Infinite. Setelah bernyanyi In the summer, mereka menyanyikan Sunset Glow milik BigBang. Setelah lelah bernyanyi, akhirnya mereka memutuskan untuk bercerita horror. Sambil menyalakan senter, Seung woo mengarahkan senter itu ke wajahnya "bagaimana kalau cerita hantu? Aku ada cerita bagus!" "Eih...andwae kasihan ada yang takut hantu. Kau kan bisa melihat dengan Hyun ra" "kau juga takut? Hahaha payah kau" ledek Seung woo pada Chanyeol "aniyo. Aku tak takut. Tapi namja itu yang takut" Chanyeol lalu menunjuk Tao yang sudah pucat pasi "Tao~ya kau takut ya?" Ucap Seung woo sambil menyeringai "wah...Hyunnie pacarmu payah" "tau nih...ah masa namja takut hantu! Payah!" Tao lalu mulai memberanikan diri bicara "a-aniyo! Aku tak takut! Kata s-siapa hah?! Kalau mau cerita juseyo!" "Joha" ucap Seung woo. "Jadi begini...waktu itu aku sedang berjalan ke kampus. Lalu, saat mulai masuk aku merasa hawanya sangat dingin" "ah pasti karena kau tertiup angin atau terkena hembusan kipas angin kan?" Ucap Sehun sambil memainkan botol air mineral "tunggu! Bukan itu. Jadi...aku pun masuk ke ruang laboratorium untuk mengambil tugasku yang tertinggal. Tiba-tiba....." yang lain pun masih penasaran dengan cerita Seung woo dan Seung woo malah menunduk "TAO~YA ADA HANTU DIBELAKANGMU!" "KYAAAAAA!!!!!!!!! YA!YA! HAJIMA! HAJIMAAAAA!" Seung woo dan Hyun ra hanya tertawa melihat kelakuan Tao. Yang lain juga tertawa tapi tidak seheboh Hyun ra dan Seung woo yang sampai guling-gulingan di tanah. Tao lalu melihat ke belakang dan tak ada siapa-siapa. Dia mulai kesal lalu merajuk pada Hyun ra "Hyun ra~ya! Neo neomuhae! Kan kau tahu aku takut hantu kenapa kau malah buat ini seperti lelucon? Kalau nanti keluar yang sungguhan bagaimana?" "Ah tak akan. Hantu itu tak akan keluar" ucap Hyun ra sambil menyeka air matanya karena tertawa. "Seungie~ah giliranku sekarang" ucap Hyun ra sambil mengambil senter dari Seung woo dang mengarahkannya pada wajahnya "ini juga terjadi saat di fakultas budaya. Jadi aku akan pentas teater jadi malam itu aku berencana untuk mengambil properti untuk keperluan pentas. Kebetulan aku kuliah malam jadi aku mengambilnya saat malam hari. Aku lalu berjalan ke fakultas budaya dan menuju aulanya. Setelah aku masuk ke aula, aku mencium aroma dupa dari sana. Biasanya dupa dinyalakan saat akan pentas tapi kan hanya ada aku seorang disitu. Lalu bau itu aku abaikan hingga pada akhirnya aku...." Hyun ra menghentikan ceritanya karena Seung woo terus menyikutnya "wae woo~ah?" Seung woo lalu berbisik ke Hyun ra "kau lihat ke belakang Tao. Disitu sungguh ada hantu anak kecil" Hyun ra lalu melihat ke belakang Tao dan menemukan bocah lelaki sedang menyeringai kepada kedua yeoja itu sambil memakai celana pantai dan membawa papan selancar "woo~ah k-kau melihatnya juga?" Seung woo lalu mengangguk dan bertanya lagi pada Hyun ra "aku apakan dia?" "Komunikasi saja" Seung woo lalu berjalan ke belakang Tao dan mulai komunikasi dengan anak itu. Setelah 1 menit komunikasi, Seung woo memanggil Hyun ra. "Anak itu...kenapa? Kenapa di belakangku bicara sendiri?!" Tao panik melihat kedua anak itu bicara dengan sesuatu yang tak ia lihat "paling ada hantu" ucap Chanyeol tenang sambil memainkan gitarnya "kok kau tenang saja?" Heerin mulai angkat bicara "ah sudah biasa. Waktu kita kencan dia bicara dengan hantu gadis yang mati karena tersedak di cafe. Ah sudah biasa. Tao~ya memang Hyun ra tak suka begitu?" "Hyun ra sih...kalau bicara dengan hantu jarang cuma...kalau mencium bau aneh sih sering" setelah kedua anak itu selesai berbicara dengan hantu, mereka pun melambaikan tangannya pada anak itu dan kembali duduk di tempat semula. "Sudah?" Tanya Heerin pada kedua anak itu "mm..dia cuma suka dengan Tao saja makanya menghampiri dia" ucap Seung woo sambil cekikikan "tak lucu tau!" Tao hanya bisa melempar botol bekas ke Seung woo tapi Chanyeol malah melempar balas ke Tao "kok jadi kau yang marah? Kan aku melemparnya tak kena Seung woo" "tetap saja kau melempar ke arah yeojaku dasar penakut! Kudoakan hantunya muncul lagi!" "YA!" "sudah jangan bertengkar! Lebih baik ganti mainan saja" saran Heerin dan yang lainnya pun mengiyakan "main Truth or Truth" ucap Sehun "lah kok Truth lagi? Bukannya Dare?" Tanya Hyun ra "Dare sudah mainstream. Kita ganti jadi Truth or Truth" "joha! Lagipula ada yang mau aku ungkap kok"ucap Chanyeol sambil melirik jahil pacarnya "apa? Kau selingkuh? Kalau kau selingkuh yasudah masih ada yang mau denganku" "ya! Museun soriya?! Aniyo. Aku tak selingkuh tenang saja. Aku setia denganmu" "halah gombal" Seung woo kembali memakan lollipopnya yang tadi ia simpan. "Ada botol kan? Nah pakai ini saja" ucap Tao yang lalu mengambil botol. "Mulai!" Tao lalu memutar botol itu. Setelah 10 detik berputar, botol itu kemudian berhenti di hadapan Hyun ra "nah. Biar aku yang tanya" Chanyeol mulai berbicara "kau lebih cinta Tao apa Baekhyun?" Hyun ra dengan tegas menjawab "Ya Tao lah! Buat apa aku ingat si bocah manja itu? Toh saat jadian juga aku dipaksa dia" "aku mau tanya!" Heerin mulai bicara "eum...kalau misalnya kau bertemu Baekhyun sekali lagi apa yang akan kau lakukan?" "Ya biasa saja lah. Namanya mantan itu sudah basi. Kan aku sudah punya yang baru kenapa juga mesti dengan yang sudah lama?" "Wah! Aku setuju!" Ucap Seung woo "HIDUP SEUNGRA COUPLE!" kedua anak itu kembali bertingkah aneh. "Lanjut ya" Tao lalu memutar botol itu lagi "wah...Park Chanyeol giliranmu" "aku yang tanya!" Seung woo langsung menatap Chanyeol "jadi Park Chanyeol~ssi...kenapa kau menyukai aku? Aku kan bisa dibilang agak...nyentrik" "NAH ITUDIA! aku suka pertanyaanmu. Karena keanehan itulah yang membuat kau berbeda dan aku suka yang lain daripada yang lain. Jelas Hara eomma?" "Aku tanya!" Hyun ra angkat bicara "kalau disuruh memilih, lebih memilih ditinggal Seung woo ke luar negeri atau diputus Seung woo?" "YA PARK HYUN RA! aku pilih atau" "tidak boleh. Mau 1 apa 2?" "Aku...pilih 1!" "Alasannya?" "Kalau Seung woo keluar negeri kan bisa saja aku menyusulnya susah sekali" "cerdas juga" Tao lalu memutar botol itu lagi "NAAAHHH KENA DIRIMU SENDIRIII!" Hyun ra langsung memekik kegirangan "Ehem..Huang Zitao~ssi...kalau kau disuruh pulang ke Cina kau akan meninggalkan ku atau...membawaku kesana?" "Ya membawamu kesana lah" "tapi kan...aku belum menikah denganmu jadi bagaimana?" "Aku akan melamarmu dulu lalu aku menikahimu dan ke Cina gampang kan?" "Cerdas" ucap Sehun "lalu...apa yang membuat mu suka pada Hyun ra?" Sehun mulai angkat bicara "Hyun ra itu spesial. Dia baik, perhatian, dan juga asik itulah yang membuatku suka dengannya dan ah kurasa dia adalah orang yang harus aku lindungi" "dengan hantu saja takut bagaimana melindungiku?" Ledek Hyun ra pada Tao "itu kan beda cerita Hyunnie. Ah sudahlah kita putar lagi" Tao pun memutar botol itu dan.."Heerin" Sehun segera melihat Heerin "wah...nona Shin giliranku bertanya" "mwonde?" "Lebih memilih aku apa Jongsuk?" "Ya kau lah. Jongsuk kan masa lalu. Seperti kata Seungra couple" "mantan itu basi" ucap keduanya serempak "nah itudia. Terjawab kan? Ada yang mau tanya lagi?" "Aku!" Hyun ra mengajukan diri "silahkan Nona Park" "eum.....kau suka Sehun dari apanya? Kan dia kurus bagai belalang. Muka datar dan lainnya. Kenapa kau suka?" "Ehm...begini Park Hyun ra kau suka Tao dengan segala yang dia punya kan? Begitu pula aku. Jelas kan?" "Singkat. Jelas. Padat" "aku putar lagi" Tao lalu memutar botol itu "Hun~ah giliranmu!" "Aku tanya!" Chanyeol mulai bicara "kau suka Heerin sejak kapan?" "Pertanyaan bagus. Aku suka Heerin sejak....dia selalu menyendiri? Jadi aku merasa harus menjadi partner dan pasangan yang baik. Sudah Park Chanyeol?" Chanyeol pun tersenyum "baiklah kalau begitu...permainan selesai. Mari kita tidur aku mengantuk" Seung woo dan Hyun ra sudah membereskan makanan dari tadi dan Heerin juga sudah masuk duluan dengan dua anak itu. Para namja pun juga mulai membersihkan api unggun dan segera ke kamarnya untuk tidur. Setelah beres-beres, Seung woo pun berganti baju dan segera merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama ponselnya bergetar

                       '1 new message
                            Hara appa'

'Jalja chagi. Sampai bertemu besok pagi! Jangan kaget besok akan ada surprise untukmu jadi bersiaplah. Xoxo ♡'

Seung woo hanya tersenyum akan pesan dari Chanyeol dan segera pergi tidur. -tbc

Saturday, June 28, 2014

Chapter 10 - Who Am I?

"Oh..hai" ucap Seung woo sambil melambaikan tangannya pada Tao. Tao hanya tersenyum pada Seung woo. "Senang bertemu denganmu! Semoga kau bisa membuat teman kami bahagia ya!" Ucap Heerin. Yang lainnya hanya tertawa sedangkan Tao hanya tersenyum malu-malu. "Duduklah. Kami mengundang kalian hanya untuk berbagi makanan yang telah kami buat tadi" ucap Chanyeol "wah...kau ada bakat Chef juga. Sushinya enak" ucap Sehun yang langsung memakan sushinya. "Machanya juga enak" ucap Hyun ra "ah geurae? Semuanya sebenarnya Seung woo yang buat sih aku cuma membantu mengaduk dan menggulung" yang lain pun mengangguk mengerti. "Tao~ssi. Bagaimana menurutmu?" Tanya Chanyeol "enak" ucap Tao "ah geurae? Syukurlah" ucap Chanyeol "kalian berdua kompak. Sepertinya kalian akan bertahan lama" ucap Tao ah hahaha gomawo..kuamini saja ucapanmu" ucap Seung woo sambil tersenyum ramah "kalau kami?" Tanya Sehun sambil merangkul Heerin "kalian....bisa dibilang jauh dari masalah. Kudoakan kalian awet ya" "AMIN! SEMOGA KAU DAN HYUN RA BAHAGIA!" ucap kedua sejoli ini. Anak-anak yang lain pun tertawa karena kekonyolan mereka. "Sudah kubilang kan mereka orangnya asik?" Tanya Hyun ra "beruntung kau punya teman seperti mereka. Gomawo karena mengenalkan ku pada mereka" ucap Tao sambil memegang tangan Hyun ra "ehem! Pasangan baru telah muncul!" Ledek Chanyeol pada Hyun ra "ah apasih kau ini. Kau suka tak jelas" yang lainnya pun tertawa sambil menikmati sushi dan macha yang Chanwoo couple buat.
                                   0o0
"Temanmu baik semua ya...aku senang bisa berkenalan dengan mereka" Hyun ra langsung senang saat tahu Tao menyukai teman-temannya. "Ah jinjja? Wah kapan-kapan berarti aku harus mengajak kau bertemu mereka lagi" ucap Hyun ra sambil melirik Tao "hmm...bisa dibilang begitu" ucap Tao sambil tersenyum "mau kemana kita sehabis ini?" Tanya Hyun ra "ah aku ada latihan wushu. Mau nonton?" Hyun ra lalu mengangguk. Akhirnya, keduanya pergi ke tempat Tao biasa latihan wushu. Hyun ra duduk di bangku tamu di dalam ruangan itu. Tao pun sudah siap dengan alat-alat wushu nya dan kini dia beraksi. Pertama-tama ia melakukan gerakan bela diri biasa lalu menendang hingga menyebabkan tubuhnya melayang dan berputar di udara. Hyun ra sempat terkesiap melihat Tao dan agak ngeri juga takut-takut Tao akan jatuh. Setelah tanpa alat, kini ia bermain nanchuck. Dia terlihat mahir memainkan alat itu sambil memadukannya dengan gerakan bela diri tadi. Setelah dengan nanchuck dia berqlih ke tongkat bambu. Semua gerakan yang ia lakukan ialah memutar tongkat, melemparnya, memutar dirinya sambil bermain tongkat dan sebagainya. Setelah aksinya selesai ia akhiri dengan berputar di udara. Hyun ra pun bertepuk tangan setelah melihat Tao beraksi. Ia segera memberikan minum dan menyeka keringatnya "kau pasti lelah ya? Tapi tadi itu sangat bagus!" Tao hanya tersenyum sambil mengambil air dari tangan Hyun ra "ah geurae? Ah baru kali ini aku latihan dan ditunggu yeoja cantik sepertimu" Hyun ra lalu memukul lengan Tao pelan "ah apaansih" Tao tersenyum sambil mengelus puncak kepala Hyun ra "tak usah aku deklarasikan lagi kan kalau aku suka padamu?" Hyun ra lalu mengerjapkan matanya sambil memastikan apa yang telah ia dengar dari Tao "k-kau bilang apa?" "Ehem...wo ai ni..kalau disini apa namanya? Sarang..ah! Saranghae!" Hyun ra merasa pipinya mendadak panas, jantungnya berdegup kencang dan seolah ia ingin pingsan "ah kan kau begitu lagi...aku hanya mengucapkan perasaanku padamu itu saja" Hyun ra langsung salah tingkah "ya tapi kan kalau bagi seorang yeoja itu..." "aku tak mau kau mempunyai nasib seperti dengan mantanmu. Aku tak mau setelah aku memaksamu menjadi yeojaku aku tak bisa baik padamu. Karena itu aku lebih memilih untuk mengatakan rasa suka padamu berulang kali dibanding menjadikanmu yeojaku karena aku yakin dengan cara ini kita bisa bertahan lama" Hyun ra lalu tersenyum "aku boleh jujur?" "Silahkan" "hanya kau namja yang dari awal aku lihat sudah membawa ketenangan padaku. Dan hanya kau yang peduli padaku apapun masalah yang kuhadapi. Aku merasa kaulah namja yang tepat yang telah tuhan berikan untukku. Maka dari itu, aku ingin agar kita terus bersama" Tao lalu tersenyum "baiklah..mari kita terus bersama hingga akhir hayat memisahkan" Tao lalu memeluk Hyun ra dengan erat. Kedua sejoli ini amat sangat bahagia akan rasa suka dan saling perhatian yang mereka tunjukkan masing-masing.
                                    0o0
Sehun dan Heerin masih diaparte Chanyeol. "Eh Tao itu sepertinya tipe penjaga yang baik untuk Hyun ra" ucap Sehun "ah benarkah? Tahu darimana?" Tanya Chanyeol "lihat saja dia buktinya bisa membuat Hyun ra segembira itu coba dengan si bebek itu kan tidak mungkin dia tersenyum seperti itu" "Baekhyun namanya ah kau ini" bela Chanyeol. Seung woo dan Heerin memilih diam daripada ikut membicarakan Baekhyun. Apalagi Seung woo yang sudah benar-benar kesal dengan Baekhyun. Seung woo hanya menatap kebawah dan terkadang malah mendengus kesal "Woo~ah, neo wae geurae?" Tanya Chanyeol sambil memegang pundak Seung woo "ah aniya keunyang...sedikit kesal" ucap Seung woo pada Chanyeol "jangan begitu...dulu kan dia temanmu semasa kecil" "tapi dia mengkhianati Hyun ra aku kasihan padanya" Chanyeol lalu mengelus kepala Seung woo "sudahlah...jangan memusuhi orang seperti itu. Dia toh juga sudah merasa bersalah kan?" "Ah tapi...ah sudahlah" Seung woo memilih diam lagi. Sehun lalu melirik Heerin "kau diam saja karena kesal atau bagaimana?" Tanya Sehun "tidak...aku diam karena aku pikir dengan diam aku jadi tidak berkata sembarangan pada orang lain. Aku sih berpikir positif saja" Sehun lalu tersenyum melihat Heerin "kau bijak juga ya....berbeda dengan yeoja yang satu ini" "AISH APA MAKSUDMU OH SEHUN?!" omel Seung woo pada Sehun "ya! Aku kan hanya mengumpamakan saja!" "Sudah jangan ribut! Kalian ini seperti anak kecil saja!" Omel Heerin. Yang lainnya pun segera diam "apapun pilihan Hyun ra harus kita hormati. Karena itu hidupnya. Dia yang menjalankan bukan kita. Kalau memang ada yang salah ya kita peringatkan kalau menurut dia itu sudah benar yasudah biarkan saja" ucap Heerin. Yang lainnya pun mengangguk "ah kenapa aku jadi ceramah begini? Aku haus aku mau minum" "ne seonsaengnim" ucap Seung woo lalu berlari mengambil air "ya tuhan yeoja mu itu kenapa" Chanyeol hanya tertawa melihat Seung woo yang senang berlarian. "Ini minumnya!" Setelah Seung woo memberikan minum dan ingin duduk seketika ia terpeleset didepan Chanyeol "HAHAHAHA YA NEO! HAHAHAHAHA" tawa Sehun dan Heerin menggelegar di aparte Chanyeol. Chanyeol hanya menahan tawa sambil memegang tangan Seung woo dan membantunya berdiri. Seung woo lalu memukul Chanyeol sambil merengut "ih jahat! Pakai ketawa lagi! Jahat kau jahat!" Chanyeol yang tadinya tak tertawa jadi tertawa terbahak-bahak "bagaimana aku tak tertawa? Kau saja pertama mau jatuh sok sok cool dengan mengeles lalu yang kedua baru jatuh kan lucu" ucap Chanyeol sambil menangis karena tertawa. Disaat yang lain hening Seung woo tertawa sendiri memikirkan dirinya saat jatuh. Yang lain menatapnya heran sambil menahan tawa "anak ini kenapa sih? Ya tuhan dasar autis" ucap Sehun pada Seung woo "enak saja autis...dia tak autis cuma agak tidak normal" ucap Chanyeol "eh awas ketahuan Luhan hyung habis kau" ucap Sehun menakut-nakuti "adiknya saja sudah mengerikan apalagi kakaknya...hii" Seung woo lalu berhenti tertawa sebentar setelah itu dia malah berguling-guling di lantai. Chanyeol yang tak kuat melihat yeojanya jadi ikut-ikutan tertawa sambil menepuk-nepuk sofa yang ia duduki. Heerin hanya membenamkan wajahnya dengan bantal untuk menahan tawanya sementara Sehun tertawa sampai menangis.
                                  0o0
Di tempat lain, setelah latihan wushu Tao dan Hyun ra pergi ke salah satu toko baju. "Kenapa kesini? Aku kan sudah punya banyak baju" Hyun ra lalu merengut saat Tao bicara begitu "arasseo arasseo..kkaja..kau belikan aku baju yang bagus ya" Hyun ra lalu tersenyum lagi dan menggandeng Tao masuk. Hyun ra lalu memilih beberapa stel baju untuk Tao. Sembari Tao mencoba, Hyun ra mencari pasangan yang pas untuk baju itu. Saat sedang mencari, tak sengaja dia memilih pakaian yang sama yang dipegang oleh seorang namja. Saat menengok, ternyata namja itu adalah............. Byun Baekhyun. Hyun ra segera melepas tangannya dari jaket itu dan mulai mencari lagi. Baekhyun hanya melihatnya penuh rasa bersalah. Saat Tao keluar, Hyun ra langsung memberikan jaket itu pada Tao dan memakaikannya. Dengan sengaja, Hyun ra memeluk Tao berpura-pura membetulkan bajunya. Baekhyun melihatnya agak kesal tapi tatapan Tao lebih mengerikan dibanding Baekhyun. Tao melihat Baekhyun dan tatapannya semakin tajam. Setelah menatap Baekhyun, Tao menatap Hyun ra dengan sayang. Baekhyun yang tak kuat melihat pemandangan itu akhirnya segera membayar dan pergi. Setelah pergi Hyun ra lalu tersenyum "tatapan mu mengerikan. Baru kali ini aku melihat tatapan begitu" ucap Hyun ra. Tao hanya tertawa mendengar ucapan Hyun ra "itu hanya untuk seseorang yang tak penting. Kalau denganmu kan beda" ucap Tao sambil menunjukkan senyumnya "ah bisa saja. Yasudah ini sudah bagus kita bayar ya?" Tao masih melihat Baekhyun mengawasi mereka dari luar. Tao lalu merapikan rambut Hyun ra dan membisikkan sesuatu pada Hyun ra "sepertinya dia masih melihat. Dasar bocah" Hyun ra lalu tertawa dan malah mencium pipi Tao. Baekhyun kaget dan langsung pergi. Tao tertawa setelah Hyun ra menciumnya "wae?" "Anak itu marah hahaha baguslah" Hyun ra lalu tertawa dan menggandeng Tao. Mereka pun menuju kasir dan membayar baju yang ia beli. Setelah mereka keluar, mereka berjalan bergandengan tanpa tahu seseorang melihatnya geram dari belakang.
                                 0o0
Sehun dan Heerin kini sedang berada di supermarket setelah dari aparte Chanyeol. Mereka berencana untuk membuat pie apel. Heerin membeli tepung, telur, agar-agar, dan apel. Sehun hanya mengikuti Heerin untuk membeli bahan-bahan pie. "Kau tahu darimana semua bahan untuk membuat pie?" Tanya Sehun sambil membantu Heerin mengambil apel kalengan yang diletakkan di rak tinggi "oh...dari Seung woo" Sehun pun berdecak kagum "benar-benar ya yeojanya Chanyeol itu. Apa saja bisa gila" "melawak saja bisa seperti tadi" Sehun lalu mulai tertawa mengingat kejadian tadi sementara Heerin menahan tawanya sambil memukul tangan Sehun. "Ah aku lelah tertawa..sudah yuk kita pulang" Heerin lalu mengangguk. Mereka pun ke kasir untuk membayar dan segera ke aparte Sehun. Setelah berbelanja, mereka segera mempersiapkan bahan untuk membuat pie. Sehun membuat adonan pie dengan sangat mahir. Heerin yang tak enak segera ingin membantu "aku harus apa?" Sehun lalu menunjuk agar-agar "buat cairan agar-agar dan buka kaleng apel" "arasseo" Heerin lalu mengambil panci dan mengisinya dengan air. Sehun lalu melihat air yang diambil Heerin "ya! Itu kebanyakan! Kurangi setengahnya! Kenapa jadi satu panci full astaga ckck kan agar-agarnya hanya untuk olesan apel saja biar cantik" "oh begitu ya? Arasseo" Heerin lalu mengurangi airnya dan menaruhnya di atas kompor. Heerin lalu memasukkan agarnya hanya setengah. Setelah itu, dia menarik baju Sehun "apa?" "Aku tak bisa menyalakan kompor. Nyalakan ya?" Sehun lalu tertawa "kau tak bisa menyalakan kompor? Astaga" Sehun lalu menyalakannya ke api sedang "bukannya tak bisa. Tapi aku pernah saat memasak hampir kebakaran. Kan aku jadi takut" "gwenchana...selama kau menggunakannya dengan baik tak akan terjadi apapun kok" Heerin lalu beralih ke kaleng apel. Heerin membukanya dengan pembuka kaleng. Saat ingin membuka kaleng itu, tangan Heerin berdarah karena terkena ujung tutup kaleng yang telah terbuka itu "yah...berdarah" Sehun lalu segera melihat jari Heerin dan menghisapnya "ah...perih. maaf ya aku bukannya membantu malah mengacaukanmu" Sehun lalu mencuci tangan Heerin dengan air setelah menghisapnya Sehun lalu tersenyum sembari mencuci tangan Heerin "lebih baik kau duduk saja melihatku. Itu juga sudah membantu kok. Tapi kalau kau mau membantu boleh sih. Kau bisa mencuci piring. Tapi aku takut dengan lukamu. Lebih baik kau obati saja. Atau kau mau menghias? Boleh juga" Heerin lalu mengangguk. Setelah selesai mengisi pie nya dengan buah dibawahnya, Sehun lalu melapisinya dengan adonan lagi dan membiarkan Heerin menghias apelnya. Setelah menghias, Sehun membakar pienya selama 10 menit. Setelah dibakar, Heerin mengolesi pie itu dengan agar-agar agar terlihat mengkilap. "Selesai! Wah bagus!" Ucap Heerin "iyalah. Siapa dulu yang buat. Serin couple" Sehun lalu merangkul Heerin sambil tersenyum. Heerin lalu memotong pie apelnya dan memberikan pada Sehun "chef...juseyo" Sehun lalu mencicipi pie apelnya. Awalnya dia berwajah datar namun melihat Heerin yang penasaran akhirnya Sehun tersenyum "enak kok...cobalah" Heerin lalu mencoba pie apel itu "oh iya...enak. wah kau pintar masak ya!" "Itu kan berkat idemu kalau tidak yaa aku tak akan menunjukkan keahlian memasak" Heerin hanya tersenyum pada Sehun. Mereka lalu menikmati pie apel itu di sore hari dengan meminum lemon tea yang dibuat Sehun.
                                    0o0
Seung woo sedang asyiknya menonton film horror setelah Heerin dan Sehun pulang. Chanyeol melihat Seung woo yang amat sangat serius menonton film "itu apa?" Chanyeol lalu duduk disebelah Seung woo sambil mengambil popcorn caramel yang Seung woo buat "horror..kau diamlah lagi asyik nih" "oh" Chanyeol lalu bersandar pada sofa dan memejamkan matanya. Seung woo yang lelah duduk tegak akhirnya bersandar. Namun karena ia terlalu serius menonton horror jadi tak sadar kalau Chanyeol sedang tertidur di sofa. Saat ia mulai bersandar, dia merasakan sesuatu di tangannya makanya ia teriak. Chanyeol lalu bangun dan melihat Seung woo "wae geurae?" "Tadi aku menyentuh sesuatu! Seperti tangan!" Yang tadinya panik Chanyeol menjadi flat face "itu tanganku. Ah kau ini. Sudah ah aku mau tidur kau nonton disini sendiri ya?" Seung woo lalu mengangguk. Chanyeol lalu masuk ke kamar dan meninggalkan Seung woo sendiri. Setelah film selesai, Seung woo merasa kesepian. Ia lalu ke kamar Chanyeol dan merebahkan tubuhnya di sebelah Chanyeol. Karena efek film tadi, Seung woo tak bisa tidur sehingga menyalakan lampu. Saat telah menyalakan lampu, Chanyeol pun terbangun "wae?" Seung woo hanya menatap Chanyeol "museowo" "waeyo?" "Filmnya..." "oh..film. kau tak bisa tidur? Mau aku temani supaya kau tidur?" Seung woo mengangguk. Chanyeol pun memeluk Seung woo tapi nyatanya ia tak bisa tidur "Yeol~ah...aku masih takut. Aku mau pulang" "pulang? Ini sudah jam 1 malam kau mau pulang?" Seung woo hanya panik karena ketakutan "jadi kau mau tidur dimana nona Lee?" Seung woo menggeleng "tak tahu...tapi disini aku tak merasa aman" "geurayo? Kenapa kau berpikir begitu?" "Disini gelap" Chanyeol lalu menyalakan semua lampu "kalau begini?" "Eum...baiklah" Chanyeol lalu memeluk Seung woo lagi "besok pagi aku antar kau pulang. Tenang saja" "ah salah aku menonton film horror tadi" Chanyeol hanya tertawa "lagian bukannya tidur bersamaku kau malah nonton film dasar" "habis filmnya seru" Ujar Seung woo sambil pout "hahaha mian aku tak menemanimu harusnya aku menemani. Sudah ya kau tidur" Seung woo lalu tertidur sambil tersenyum dan Chanyeol mencium pipi Seung woo "night sweetie. Have a nice dream" mereka berdua pun tertidur dengan amat sangat nyenyak -tbc

Chapter 9 - Who Am I?

Kegiatan rutin Hyun ra setelah ia putus dari Baekhyun yaitu pergi ke taman dan mengunjungi Tao untuk melihatnya bermain basket. Hyun ra duduk di bangku penonton sembari membawa sandwich yang ia buat untuk Tao. Kalau bisa dihitung-hitung sudah hampir sebulan Hyun ra dekat dengan Tao. Entah apa yang ada dalam dirinya, ia merasa Tao lebih pantas untuknya dibanding Baekhyun. Setelah lama menunggu, akhirnya Tao menghampiri Hyun ra "sudah selesai mainnya?" Tanya Hyun ra yang sedang membaca novel itu "baru saja. Kau baca apa serius sekali" ucap Tao sambil melihat buku yang Hyun ra baca "ini buku Sherlock Holmes. Aku suka buku detektif makanya aku baca ini" "kau suka detektif? Wah berarti kau termasuk genius dong" "kenapa kau bilang begitu?" Hyun ra langsung heran dengan ucapan Tao "karena biasanya yang suka buku detektif itu orang yang senang berpikir dan sepertinya kulihat kau anak yang senang bermain dengan logika" Hyun ra hanya tertawa saja "hahahaha bisa saja. Aku diluar memang manis coba kalau kau tanya temanku wah jangan ditanya aku itu amat sangat beringas. Kau tidak tahu kan sebelum aku bertemu denganmu aku anak clubbing?" Tao tercengang mendengar ucapan Hyun ra tapi Hyun ra langsung menepuk bahu Tao "tenanglah. Aku sudah taubat kok. Aku sekarang jadi anak alim" Tao pun hanya tertawa mendengar ucapan Hyun ra "kau lucu. Baru kali ini aku melihat ada yeoja seasyik dirimu" Hyun ra hanya tersenyum pada Tao "besok ada waktu luang? Kalau ada nonton Transformer yuk! Aku yang bayar deh" Hyun ra dengan antusias langsung mengiyakan ajakan Tao "jam 4 kujemput ya. Ah iya kau sudah makan?" "Belum...aku menunggu kau makan dulu biar kita bisa makan bersama" Tao pun tersenyum "ah geurae? Wah enak juga ya makan sambil ditunggu oleh seorang yeoja begini...andai saja aku punya yeoja sepertimu. Ehem kira-kira aku punya kesempatan kan?" Hyun ra langsung kaget mendengar ucapan Tao "n-ne?" Tao hanya tertawa "ah aku hanya bercanda. Jangan bilang kau anggap serius lagi? Hahaha tapi kalau kau anggap serius juga tak apa sih toh aku mulai menyukaimu" Hyun ra langsung tertegun akan ucapan Tao "jangan langsung kau anggap serius dulu aku kan cuma mengungkapkan perasaanku" Hyun ra hanya tersenyum kikuk pada Tao. Akhirnya, mereka berdua pun saling pendekatan satu sama lain di taman itu.
                                 0o0
Pagi ini tak biasanya Heerin melakukan kegiatan semacam ini. Dia sampai memanggil Seung woo pagi-pagi ke rumahnya hanya untuk membantu nya melakukan hal itu "aduh tumben-tumbenan sekali sih kau memasak? Buat apa?" Heerin langsung meliriknya kesal "namanya yeoja itu kan harus bisa memasak! Kau pikir hanya kau saja yang bisa memasak? Aku juga harus bisa! Diantara kalian bertiga, hanya aku yang tak bisa memasak!" Seung woo hanya menganggukkan kepala mengerti. "Jadi nona Shin apa yang mau kau buat hari ini?" Heerin lalu berpikir menemukan suatu ide "aku mau buat pizza" "oh gampang...ok kau akan kubantu" "jadi pertama kita harus apa?" Seung woo lalu melihat ke lemari es "kau punya paprika atau daging cincang atau bawang bombay?" Heerin pun melihat ke lemari es "aku hanya punya daging cincang dan bawang bombay. paprika aku tak punya" "kau punya ragi?" Heerin menggeleng "baiklah yang perlu kita beli adalah keju mozarella, paprika, parmesan, saus tomat, sosis.." "sosis aku punya!" "Oh kalau begitu ragi dan minyak" "minyak aku punya tapi tepung tidak" "baiklah beli tepung yang protein rendah. Kkaja kau yang bawa mobil aku mau tidur dulu" "haish kau ini" "siapa suruh membangunkanku pagi-pagi?!" Omel Seung woo pada Heerin 'kalau bukan karena kau jago masak mungkin kau akan kutendang karena menyuruhku dengan seenak-enak jidatmu'  gumam Heerin. Akhirnya mereka ke supermarket untuk membeli semua bahan itu. Setelah selesai, mereka segera ke rumah Heerin untuk membuat pizza. Pertama-tama Seung woo mengambil air es untuk membuat adonan pizza. Dia memasukkan tepung serta ragi ke dalam situ. Setelah kalis, adonan pun ia diamkan selama kurang lebih 2 jama agar lebih mengembang. Sembari menunggu, mereka membuat isi pizza dengan menumis bawang bombay terlebih dahulu hingga harum lalu memasukkan daging, sosis, paprika, serta saus tomat ke dalamnya. Setelah 2 jam menunggu akhirnya mereka mengoleskan minyak pada adonan dan pada loyang agar tak lengket. Setelah mengoles minyak mereka pun mengoles pizza dengan topping dan menaburkan keju mozzarella diatasnya. Setelah menaruh topping, Heerin memasukkan pizza ke oven yang sudah di set 150°C oleh Seung woo tadi. Kurang lebih sekitar 20 menit akhirnya pizza pun jadi. "Wah daebak. Kau benar-benar master" ucap Heerin "apanya master. Chanyeol setiap minggu aku buatkan pizza dan pasta hahaha" "beruntung Chanyeol mendapatkanmu. Kasihan Sehun yang tak bisa mencicipi masakan buatanku. Yang ada malah dia yang memasak untukku" Seung woo hanya tertawa "yaampun ternyata Oh Sehun bisa masak? Daebak" Heerin yang mendengar ucapan tadi merasa kesal dengan dirinya "ah kenapa aku tak bisa masak sih?!" "Makanya...bersahabatlah dengan kompor makanya kau bisa memasak" Heerin lalu melirik Seung woo "kau kan kompor Seung woo~ah. Kau kan selalu memanas-manasi orang lain iya kan?" "YA! BUKAN KOMPOR YANG SEPERTI ITU AH NEO JINJJA! Ah ngomong-ngomong pizza ini untuk siapa?" "Untuk sehun" Seung woo hanya mengangguk mengerti "arasseo. Tugasku sudah selesai kan? Aku dipanggil oleh majikan nih" Heerin lalu menatapnya heran "majikan? Nugu?" "Park Chanyeol" "ooohhh hahaha yasudah sana layani majikanmu kalau tidak nanti kau dipecat lagi. Gomawo ya" Seung woo pun tersenyum dan segera pergi ke tempat Chanyeol dengan mobilnya sementara Heerin langsung memanggil Sehun untuk kerumah.
                                 0o0
Sehun baru saja bangun dari tidurnya setelah semalam ia begadang mengerjakan essay terakhirnya sebagai mahasiswa. Ia masih mengenakan celana pendek dan kaus v neck putih dan rambut yang acak-acakan. Tak lama setelah ia bangun, ia mendengar bel apartenya berbunyi. Ia pun segera melihat intercom dan ternyata itu Heerin yang sedang menunggu diluar. Sehun segera membukakan pintunya dan Heerin masuk dengan satu kotak makan. "Baru bangun?" Tanya Heerin "iya..semalam aku mengerjakan essay makanya baru bangun" Heerin lalu tersenyum "pasti belum makan kan? Kebetulan aku buat sesuatu. Sebenarnya ada bantuan Seung woo juga sih tapi over all aku yang masak" Sehun langsung tersenyum "ah geurae? Wah pasti enak" Sehun segera membuka kotak makan itu. Dan voila! Sehun melihat sebuah pizza dengan keju yang bertaburan membentuk love. "Ini minumnya. Tadi sebelum kesini aku ke cafe dulu" Heerin memberikan bubble tea pada Sehun. Sehun langsung mengambil pizza tersebut dan mencobanya "hmm...enak. karena kau yang buat apa saja enak" Heerin langsung menegur Sehun "jangan begitu! Nilailah dengan objektif jangan subjektif" Sehun lalu merasakan rasa pizza itu "semuanya sudah enak kok" "serius?" Sehun mengangguk. "Wah berarti kau sudah lulus ujian memasak" "geuraeyo?! Ah akhirnyaaa. Gomawo Lee Seung woo!" Heerin memekik bahagia. "Kau sudah mencoba ini?" Heerin pun menggeleng "makanlah" Sehun menyodorkan pizza yang baru saja digigitnya. Heerin lalu memakan pizza itu dan dia langsung tercengang "uwah daebak. Rasanya enak. Jinjja seperti dari restoran Italy" puji Heerin. "Bagaimana kalau kita besok undang Seung woo dan Chanyeol kesini? Untuk mengucapkan terima kasih" ucap Heerin "boleh. Aku juga mau berterima kasih pada Seung woo karena berkat dia aku tak jadi mabuk" Heerin segera menyikut Sehun "sampai kau mabuk lihat saja ya!" Sehun hanya tertawa lalu mencium yeojanya "aih jangan marah dong nanti jelek" Heerin pura-pura kesal sambil meminum bubble tea nya.
                                    0o0
Seung woo dan Chanyeol kini sedang memasak sushi di aparte Chanyeol. "Ya! Nasinya jangan ditambah cuka terlalu banyak!" Omel Seung woo pada Chanyeol "nanti kan ditambah gula Chagi" "ah tapi tetap saja! Ah kau ini..." Chanyeol akhirnya mengambil panci nasi dan membuat nasi lagi "mau buat nasi lagi?" Chanyeol hanya tersenyum "daripada yeojaku marah-marah lebih baik aku buat saja nasi lagi" Seung woo lalu segera tak enak pada Chanyeol "yah maaf ya harusnya aku tak mengomel tadi kau jadi masak nasi lagi deh" Chanyeol lalu mengelus kepala yeojanya "gwenchana aku memang senang melakukannya kok" Seung woo hanya tersenyum lalu lanjut menggulung sushi "habis ini buat apa? Macha?" Tanya Chanyeol "ide bagus! Ada plain yoghurt dan teh hijau bubuk kan?" Chanyeol mengangguk "bagus! Kalau begitu kita bisa buat macha dan sushi!" Setelah memasak nasi, Chanyeol membantu Seung woo menggulung sushi dengan nasi yang sudah Seung woo siapkan. Tak lama, sushi nya pun jadi. Setelah nasi tadi matang dan mereka kembali membuat sushi, mereka pun membuat macha dengan secepat kilat. Bisa dihitung sekitar 10 menit. "Selesaiiii!!!!" Ucap Seung woo sambil meregangkan tubuhnya "pasti enak. Soalnya kau yang buat" Seung woo hanya tertawa merespon ucapan Chanyeol "kau tahu? Sebelum kesini kan aku membantu Heerin membuat pizza untuk Sehun" "lalu? Yang banyak bertugas menumis dan lain lain siapa?" "Aku" ucap Seung woo "Heerin yang memasak topping nya tapi aku yang membuat rotinya" Chanyeol langsung mendesah "kenapa?" "Yah...berarti selain aku ada yang sudah mencoba masakanmu dong?" "Tenanglah..aku hanya membantunya sekali. Selebihnya masakanku ya hanya kau yang makan" Chanyeol lalu tersenyum dengan cerah "nah...kalau begitu kapan nona Lee yang cantik ini selesai kuliah?" Seung woo langsung melirik Chanyeol yang sedang membackhugnya itu "2 tahun? Aku mau mengambil master dulu" Chanyeol langsung merengut "apa lagi tuan Park?" "Kelamaan...1 tahun lagi bagaimana? Mastermu bisa kau lanjutkan setelah menikah denganku" "bisa saja asal aku belum mempunyai anak dulu" Chanyeol yang tadi sedang minum macha itu langsung tersedak "mwo?! Yah berarti..." "jangan berpikiran negatif. Kau ini. Sudah sana lebih baik kau makan saja agar otakmu jernih" "kau tak makan?" Seung woo lalu melihat cucian menumpuk "lihat kan? Aku harus beres-beres dulu" Chanyeol langsung mencuci piring secepat kilat "sudah! Nah sekarang kau makanlah!" "Itu masih kotor. Sudah biar aku saja yang bereskan kau duduk saja" Seung woo lalu membereskan dapur dan Chanyeol sibuk memotret makanan yang Seung woo buat. Setelah memotret ia menguploadnya di Instagram
            
             'Looks beautiful like the Chef
                           who made it'

Setelah membersihkan dapur, Seung woo pun memakan Sushi yang ia buat tadi bersama Chanyeol sembari menonton anime.
                                   0o0
"Wah kebanyakan nih sushinya" ucap Seung woo sambil melihat satu piring besar sushi yang ia buat dan masih ada satu blender lagi macha dingin "iya juga ya...panggil yang lain" "arasseo" Seung woo lalu segera memanggil teman-temannya itu

'Guys kita kelebihan stok makanan ppali ke aparte yeol'

"Done" mereka berdua pun menunggu kehadiran teman-temannya. Pertama yang datang adalah Heerin dan Sehun. Sehun lalu menepuk pundak Seung woo "makanannya enak. Gomawo" Chanyeol yang jealous itu lalu merangkul yeojanya "hanya sekali ini ya kau mencoba masakannya. Besok-besok kalau mau lagi beli sendiri" Sehun lalu tertawa sambil menepuk pundak Chanyeol "arasseo ima! Aku kan mendapatkannya dari Heerin" Seung woo hanya tertawa mendengar ucapan Chanyeol. Seung woo lalu berbisik ke Heerin "kapan-kapan panggil aku saja kalau mau memasak. Aku mau kok" Heerin hanya tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya. Setelah Heerin dan Sehun datang barulah Hyun ra datang "wah ini dia yeoja terkuat jaman ini" ucap Heerin "oh iya dong. Apa gunanya seorang pengkhianat di kehidupanku nanti kan? Toh aku sudah punya yang baru" ucap Hyun ra sambil mengibas rambutnya "MWO?!" Teriak semua orang sehingga Hyun ra kaget "astaga...biasa saja lah. Kalian kalau kenal dia juga akan merasa senang kok" Seung woo lalu bertanya dengan penasaran "dia tampan? Iya?" Chanyeol segera menyikut yeojanya "ya! Masih saja menanyakan namja lain ah kau ini" "aku kan hanya bertanya ah kau" Hyun ra langsung memanggil Tao. Tao pun masuk dengan wajah dinginnya. Tao lalu memberi salam pada semuanya "annyeong. Tao imnida" - tbc