Saturday, May 14, 2016

Just me and London

London, 14 Mei 2016

Aku duduk disini sambil menikmati dinginnya udara kota London yang bisa dibilang menusuk. Aku berdiam disini sambil merenung dan memikirkan apa yang telah kuperbuat saat lalu. Sebuah kesalahan yang benar-benar aku sesali tetapi aku tak bisa memperbaiki kembali. Hanya rasa sedih dan kecewa yang tertinggal dalam diriku.

Bodoh, egois, ceroboh.

3 kata itu yang dapat mendeskripsikan mengapa aku bisa menjadi seperti ini. Mengapa aku menjadi seseorang yang bodoh yang terus berangan-angan bahwa cinta akan selalu berakhir bahagia. Aku selalu berpikir bahwa hidupku selalu mulus dan tak ada yang salah dari itu. Mungkin karena kesombonganku tuhan mengujiku dengan ini. Skakmat. Aku terdiam dan tak bisa berkutik. Aku hanya bisa menangis dan menyesali. Tapi tak ada gunanya menangis. Untuk apa? Toh dia tak akan kembali.

Satu kali...
Dua kali...
Ketiga kali...
Aku tak sanggup.
Pengkhianatan yang cukup menyakitkan untukku. Sungguh menghancurkan aku dan masa depanku. Hampir untungnya karena aku disadarkan oleh orang terdekatku bahwa dia bukanlah segalanya. Aku masih tak terima dan hampir saja mengakhiri hidupku. Aku hampir saja mati tetapi dia datang memberi harapan. Sekarang? Semuanya omong kosong belaka. Kejujurannya hanya sampai di lidah tak sampai di hatinya.

Aku berpikir dan terus berpikir....
Hari demi hari.....
Minggu demi minggu....
Purnama demi purnama....
Musim demi musim.....
Kuputuskan untuk berjalan ke arah yang berbeda darinya. Kuputuskan melepaskan pegangan yang dia beri kepadaku. Semakin aku berpegang erat padanya semakin dia menancapkan panah ke jantungku. Sakit memang tapi aku tahan karena aku lihat senyumnya. Sekarang aku tak tahan dan aku benar-benar ingin lepas. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Hanya tersisa penyesalan yang mendalam.

Untukmu,
Aku ucapkan terima kasih karena telah berpura-pura menyukai dan mencintaiku layaknya seseorang yang tulus, layaknya seseorang yang bertanggung jawab, layaknya pangeran yang benar-benar melayani sang putri. Aku hargai itu tapi maaf......penderitaan yang kau beri padaku lebih menyakitkan sehingga mampu menghapus segala kenangan yang ada. Kuharap kau bahagia..
Aku yakin walaupun nanti aku tiada kau tak akan peduli padaku kan? Tak apa. Aku juga tak mengharapkannya.

Berbahagialah, carilah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Maafkan aku yang telah membuatmu tersiksa bagai di neraka. Terkahir dariku, apabila kita bertemu janganlah saling menyapa. Aku tau kau sebenarnya tak suka melihatku iya kan? Aku sudahi dulu. Terima kasih teman....

L.Y.

No comments:

Post a Comment